Selamat datang, my brother and sista rohimakumulloh..

Cari Blog Ini

Rabu, 20 April 2011

Esensi salam.., :)

Pada suatu hari Rasulullah Saw. mengumpulkan para sahabatnya, kemudian beliau berkata, “Wahai para sahabatku, maukah aku berikan satu tips yang sangat mudah yang kalau kalian melakukannya niscaya akan tumbuh rasa kasih sayang di antara kalian, tidak akan ada perpecahan, tidak ada saling menjatuhkan, tidak ada saling mencaci-maki di antara kalian.”

“Apa itu, ya Rasulullah?” tanya para sahabat.

Jawab Rasulullah, “Tebarkanlah salam di antara kalian.”

Ucapan salam sudah sering kita dengar, kita lihat, dan kita lakukan di antara kita. Dalam konteks kenegaraan, setiap pidato selalu dimulai dengan salam. Dalam acara-acara resmi maupun tidak resmi, dalam berbagai pertemuan, sering terdengar ucapan salam. Bahkan dalam perjumpaan sehari-hari antara kita dengan teman kita, sering pula kita mengucapkan salam. Namun kesadaran untuk saling mencintai di antara kita, saling menghormati, saling menghargai, tampaknya masih cukup rendah. Caci-maki di antara kita masih sering terdengar dan kita lihat. Pertanyaannya, apakah Rasulullah salah memberikan tips?

Sikap keberagamaan memiliki dua aspek, yaitu aspek formalitas dan esensi. Ucapan salam adalah aspek formalitas dan ini perlu kita budayakan, tetapi tidak cukup sampai di situ. Perlu ada perwujudan atau aktualisasi dari formalitas tadi. Jika kita sudah terbiasa mengucapkan salam, apakah batin kita sudah memahami betul makna salam tersebut?

Ucapan salam yang sering kita ungkapkan adalah kalimat “Assalâmu’alaikum warahmatullâhi wabarakâtuh”. Setidaknya ada tiga unsur yang perlu kita cermati dari ucapan itu. Pertama, kalimat assalâmu’alaikum, yang artinya “keselamatan untuk kalian semua”. Apa makna kalimat ini? Makna kalimat tersebut sesungguhnya adalah sebuah kontrak sosial antara kita dengan orang yang ada di depan kita, antara kita dengan orang yang kita ajak bicara, seolah-olah kita mengatakan, “Saya menjamin keselamatan anda selama anda berada di depan saya, selama anda berada di sekeliling saya, selama anda bergaul dengan saya.” Di dalam batin kita, ada itikad kuat bahwa kita tidak akan mengganggu keselamatannya, tidak akan mencaci-makinya, dan tidak akan menghinanya.

Rasulullah mendefinisikan bahwa seorang Muslim adalah orang yang mampu memberikan keselamatan kepada orang lain baik dari mulutnya maupun perilakunya. Seorang Muslim akan memunculkan dirinya sebagai orang yang tidak suka melakukan gangguan, pengrusakan, dan penghinaan terhadap orang lain.

Ketika berbicara tentang persoalan haji, Rasulullah berkata, “Haji mabrur itu tidak ada padanannya selain surga.”

Sahabat bertanya, “Apa ciri-ciri haji mabrur itu, ya Rasul?”

Jawab Rasulullah, “Dia peduli (memberi makan) terhadap orang-orang miskin, dan dia senantiasa menebarkan salam baik secara formalitas lebih-lebih secara batiniyah.”

Ungkapan salam adalah identitas dari seorang yang hajinya mabrur.

Allah pun mengajarkan di dalam surat an-Nisâ ayat 86, ”Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.”

Kedua, kalimat warahmatullâhi. Di sini ada kata rahmat, artinya kasih sayang. Maknanya adalah ketika kita mengucapkan kalimat ini, maka di dalam batin kita ada keyakinan bahwa “Selama engkau berada di dekatku, engkau adalah laksana saudaraku yang keluar dari satu rahim, oleh karena itu saya akan selalu mengasihi dan menyayangi engkau.”

Dalam sebuah hadis diungkapkan bahwa ketika Allah Swt. menciptakan alam ini, bersama itu pula Allah menciptakan seratus rahmat. Satu dari seratus rahmat itu Allah turunkan ke muka bumi, dan semua makhluk di muka bumi ini merasakan titipan rahmat tersebut. Sisanya 99 rahmat akan diberikan oleh Allah nanti di akhirat.

Satu rahmat yang diturunkan Allah ke muka bumi ternyata cukup untuk menaungi seluruh makhluk. Kita lihat seekor induk ayam, jika kita berjalan terlalu dekat dengan anak-anaknya, percayalah induk ayam itu akan mematuk kaki kita karena kita telah mengganggu anak-anaknya. Harimau adalah binatang buas, tetapi setelah dia melahirkan anak, dia akan menjadi binatang yang sangat penuh kasih sayang terhadap anaknya. Ayam dan harimau itu sesungguhnya merasakan ada titipan satu rahmat yang Allah turunkan ke dunia.

Apabila ayam dan harimau merasakan kasih sayang terhadap anaknya, bagaimana rasa kasih sayang kita terhadap anak-anak kita, terhadap istri kita, terhadap orang tua kita, terhadap saudara-saudara kita, terhadap sesama manusia lain dan makhluk lain? Sungguh aneh, bahwa di surat kabar dan televisi, selalu ada saja berita tentang anak yang membunuh orang tuanya, orang tua yang menyiksa anaknya, istri bertengkar dengan suaminya, suami menganiaya istrinya, dsb. Ini artinya orang tersebut gagal menerima amanah satu rahmat yang diberikan Allah kepadanya.

Ketiga, kalimat wabarakâtuhu. Di sini ada kata barakah atau keberkahan, yaitu perasaan transendental bahwa saya melakukan aktivitas ini semata-mata untuk Allah Swt., bukan untuk yang lain. Saya bersilaturahmi dan mengucapkan salam kepada anda, bukan untuk mencari muka, bukan untuk minta dipuji, melainkan untuk mengharap keberkahan dari Allah.

Allah telah menjanjikan, “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’râf [7]: 96)

Oleh karena itu mari kita introspeksi diri. Gunung-gunung dan lautan sudah melakukan protes terhadap kita; hujan yang seyogyanya menjadi keberkahan, justru menjadi banjir yang menghanyutkan harta benda kita. Keberkahan yang seharusnya kita peroleh dari langit dan dari bumi, ternyata yang terjadi adalah kebalikannya. Hal ini, bisa jadi, disebabkan ucapan salam yang kita tebarkan tidak kita barengi dengan ketulusan hati, tidak kita barengi dengan jaminan keselamatan, tidak kita barengi dengan kasih sayang, dan tidak semata-mata kita dedikasikan untuk Allah. Oleh karena itu mari kita perbaiki sikap keberagamaan kita, menjadi bukan hanya sekadar formalitas tetapi juga beserta hakikat atau esensinya.

Sabtu, 15 Januari 2011

Seberapa Pantaskah Kita

my bro n sista... :)

seberapa pantaskah kita jadi kekasihNya?

tolong jelaskan bagaimana kita sanggup berkata bahwa kita mencintaiNya?

bagaimana mungkin kita bisa mencintai apa yg tidak kita kenal?

seberapa dekatkah kita sanggup mengenalNya hingga terbit benih cinta itu?

bagaimana mungkin kita dapat mengharap cintaNya bila kita tidak mencintaiNya?



my bro n sista.. :)

bagaimana bisa kau memahami keinginanKu,

bila kau masih berfihak pada keinginan-keinginanmu?

bagaimana mungkin kau berani mengaku kekasihKu,

bila kau masih berfihak pada nafsu-nafsumu..