Selamat datang, my brother and sista rohimakumulloh..

Cari Blog Ini

Senin, 12 Juli 2010


KEBEBASAN
Tujuan yang hakiki bukanlah menghindari kebencian untuk mencapai kebahagiaan.Tujuan hakiki adalah mencapai kebebasan. Lepas dan bebas dari perangkap kebencian dan kebahagiaan.

Apa kabar guys?
Apa lagi nih perangkap kebencian dan kebahagiaan?
Bebas dari perangkap kebencian oke deh mudah dipahami, tapi kalo perangkap kebahagiaan ko terdengar agak aneh ya? Apa lagi kalo disebut sebagai sebuah ‘perangkap’  penulis kayanya terlalu berlebihan nih.., :) makin aneh aja lama-lama tulisannya.
Iya beda tapi dari mana juntrungannya anda bisa menyimpulkan bahagia juga bisa membahayakan? Bukankah kebebasan yang justru berbahaya? Baguuuuss….  kenapa ya kalo penulisnya orang kenamaan ga terlalu banyak pertanyaan yang susah-susah haduuuh, asli deh penulis sering ikut entah itu seminar, ceramah, atau bahkan meeting kantor, kalo yang ngomong adalah seorang yang punya ‘taring’ pasti deh yang hadir and dengerin cuma manggut-manggut doang sambil kadang-kadang mikit ga jelas trus ho’oh iya setuju oke deh  walau semua orang tau jangan pernah melihat siapa yang bicara tapi lihat apa yang dibicarakannya, ha ha ha jadi agak curhat neh, well pada kenyataannya kekuatan sebuah figur dan kredibilitas memang terbukti sanggup melemahkan atau bahkan memutar balikan sebuah kenyataan  tapi gpp, penulis senang ko…  aaarrrrgggg…. 
Dear guys, diatas sengaja saya tulis agak nyeneh karena sebenarnya antara kebencian dan kebahagian memiliki potensi yang sama yaitu sama-sama menimbulkan keterikatan.
Keterikatan hati kita pada sesuatu entah itu berbentuk kebahagiaan ataupun kebencian keduanya akan memenjarakan kita dalam bentuk perasaan atau suatu emosi , seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa antara kita dan perasaan adalah suatu hal yang jauh berbeda, perasaan hanya merupakan sebuah alat untuk kita dapat memaknai segala sesuatu yang terjadi pada diri kita ataupun lingkungan sekitar kita, sedangkan diri kita adalah sang pemilik perasaan tersebut., yah seperti sebuah komputer dengan pemilik komputer, beda kan? 
Ya, memang beda udah deh langsung to the point aja, jadi menurut anda baiknya bagaimana? Dear guys, penjelasan saya mungkin akan terdengar agak aneh and konfrontatif menurut pemahaman anda selama ini, tapi sengaja saya lakukan agar kita bisa melihat dan memaknai segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, bila kita sudah bisa melakukannya kita sudah satu langkah menuju kebebasan itu sendiri, bila saja orang ‘dulu’ mau sedikit membuka kepalanya untuk hal-hal yang baru atau mungkin juga hal-hal ajaib yang mungkin tak terpikirkan orang pada masanya, tentu galeileo tidak mati dihukum atas statementnya tentang bumi yang bulat.
Adalah sangat manusia sekali bila kita takut akan suatu perubahan pola pikir apalagi bila bersinggungan dengan norma-norma yang berlaku. Nah disinilah nilai kebebasan itu kadang harus di’haram’kan atas dasar nilai pemahaman yang berlaku disekitar kita, dan dengan keterikatan pada kebahagian yang mungkin sedang kita kecap dalam pemahaman yang kurang benar, kita akan dibelenggu oleh kebahagiaan itu dan tak sanggup dengan bebas memaknai kebenaran yang ada, tapi apakah akan menjadi suatu dosa bila kita ternyata pemahaman kita jauh melampaui standard pemahaman rata-rata? Boleh dong? Sekarang kita memberikan ‘label’ kasihan pada Galeileo, tapi tidak dengan orang pada masanya.  dear guys, we are forward in this generation 
Dah cukup deh penjelasannya, lanjut.
Ntar dulu, belom finish nih , sebagai contoh mudah, dalam suatu meeting dikantor kita, Bos memberikan instruksi yang agak ajaib, dan ga berdasarkan data yang ada. Well, keterikatan yang berlebihan akan kebahagiaan (emosi yang mengatakan bila kita tidak melakukannya maka kita akan kehilangan pekerjaan dan tidak akan bisa beli ini, beli itu, bayar ini, bayar itu) akan membungkam mulut kita untuk mengutarakan yang sebenarnya, bahkan data yang ada harus kita ‘make up’ biar keliatan sesuai dengan instuksi. Bila ini dibiarkan terus menerus, perasaan (baca: pikiran bawah sadar) kita akan mencatat dan membangun image diri kita sebagai ‘yes man’ membohongi nurani sendiri dan ini sangat berbahaya. Saya bukannya menyuruh anda untuk jadi terlalu idealis tapi saya ingin anda bisa terbebas dari tekanan itu. Dengan tidak terikat pada kebahagiaan anda juga tidak akan terikat pada kebencian, padahal bila kita mau berbicara secara jujur, sesuai aturan, baik dengan cara-cara yang baik, bila dia adalah seorang yang keras kepala maka boss kita pada awalnya mungkin akan kurang senang tapi dengan berjalannya waktu, boss anda akan tau kepada siapa dia akan mempercayakan sesuatu yang ‘besar’ .
Ko jadi ngomongin kerjaan sih? yah, karena saya juga seorang pekerja ya pasti contohnya akan sesuai dengan apa yang saya tau.  okay?
Sampe dimana tadi? Oh iya.. jadi gitu guys, apa sih? he he he kadang kalo dah ngalor ngidul ngomong orang jadi lupa akan tujuan yang mau diomongin apa? Eh tadi gw mo ngomong apa ya? Sering kita terjebak dalam posisi itu.  itu karena kita berpindah fokus. Oke deh kita kembali ke settingan awal ya. Tapi sekarang pasti dengan sudut pandang yang lebih baik dong…  kalo ga rugi deh penulis dari tadi ngetik sekedar buat opening. Haaaaaaaaaah opening? Iya opening. Sekarang mulai serius ya. Ga ada lagi tanya jawab. Ini adalah sebuah DOKTRIN!!!!
Tujuan yang hakiki bukanlah menghindari kebencian untuk mencapai kebahagiaan.Tujuan hakiki adalah mencapai kebebasan. Lepas dan bebas dari perangkap kebencian dan kebahagiaan.
Bila kita ingin lepas dan bebas dari perangkap kebencian dan kebahagiaan maka kita harus bisa mengenali diri kita sendiri, diri kita yang sebenarnya bukanlah tubuh kita, bukan pangkat kita, bukan gelar kita, bukan pikiran kita, dan juga bukan perasaan kita, semuanya adalah sekedar label yang menempel pada diri kita yang bila kita tidak dapat lepas dari itu maka kita akan selamanya terpenjara didalamnya, dan kebebasan hanya akan berada dalam angan-angan.
Semua hal yang berkaitan dengan diri kita bukanlah diri kita. Lalu apa dan siapakah kita...?

ranu mulyana

Jumat, 18 Juni 2010

MENGHIDUPKAN HATI



MENGHIDUPKAN HATI



Kok, menghidupkan hati seh? Memangnya hati bisa mati ya? Kalo hati kita mati, kita juga mati dong?
Ya matilah kalo memang kita ga punya hati lagi gimana mau hidup? Bukankah keberuntungan manusia dibanding hewan adalah manusia memiliki akal dan terutama hati nurani yang memungkinkan kita untuk bisa berma’rifat (kesanggupan mengenal) kepada Alloh? Ini adalah karunia sekaligus musibah bagi manusia, loh ko musibah? Ya kalo kita ga bisa mengemban amanah yang berupa akal dan hati nurani itu akan menjadi musibah, buat dirinya dan alam disekitarnya.
Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk bisa menghidupkan hati ini, Orang-orang yang hatinya benar-benar berfungsi akan berhasil mengenali dirinya dan pada akhirnya akan berhasil pula mengenali Tuhannya. Tidak ada kekayaan termahal dalam hidup ini, kecuali keberhasilan mengenali diri dan Tuhannya. Memang kita bisa ya mengenal Alloh dengan sebenar-benarnya? Seperti apa sih Alloh itu? Selama ini yang kita tahu kan Alloh Maha ini, Maha itu, Maha begini, Maha begitu. Katanya… ya kan? Lah memang kalo ga katanya trus mau kata siapa? Ya kata diri sendiri. Percaya itu kan lebih mantap kalo kita alami sendiri toh?.
Karenanya, siapapun yang tidak bersungguh-sungguh menghidupkan hati nuraninya, maka dia akan jahil, akan bodoh, baik dalam mengenal dirinya sendiri, lebih-lebih lagi dalam urusan mengenal Allah Azza wa Jalla, Zat yang telah menyempurnakan kejadiannya dan pula mengurus tubuhnya lebih daripada apa yang bisa ia lakukan terhadap dirinya sendiri.
Orang-orang yang sepanjang hidupnya tidak pernah mampu mengenal dirinya dengan baik, tidak akan tahu harus bagaimana menyikapi hidup ini, tidak akan tahu indahnya hidup. Demikian pun, karena tidak mengenal Tuhannya, maka hampir dapat dipastikan kalau yang dikenalnya hanyalah dunia ini saja, dan itu pun sebagian kecil saja, kasian ya?.
Akibatnya, semua kalkulasi perbuatannya, tidak bisa tidak, hanya diukur oleh aksesoris keduniaan belaka. Dia menghargai orang semata-mata karena orang tersebut tinggi pangkat, jabatan, dan kedudukannya, ataupun banyak hartanya. Demikian pula dirinya sendiri merasa berharga di mata orang, itu karena ia merasa memiliki kelebihan duniawi dibandingkan dengan orang lain. Adapun dalam perkara harta, gelar, pangkat, dan kedudukan itu sendiri, ia tidak akan mempedulikan dari mana datangnya dan kemana perginya karena yang penting baginya adalah ada dan tiadanya. Aduh repot deh… tiap hari yang diingat hanya keduniaan terus, jangan-jangan setiap berdoa yang diminta hanya seputar duit dunia ‘n rezeki, yang paling parah lagi zikirnya harta duit harta duit harta duit ha ha ha ga lah ya.. bro, ini tokoh fiksi. 
Tapi memang sebagian besar orang ternyata tidak mempunyai cukup waktu dan kesungguhan untuk mau belajar mengenali hati nuraninya sendiri. Akibatnya, menjadi tidak sadar, apa yang harus dilakukan di dalam kehidupan dunia yang serba singkat ini. Sayang sekali, hati nurani itu - berbeda dengan dunia - tidak bisa dilihat dan diraba. Kendatipun demikian, kita hendaknya sadar bahwa hatilah yang menjadi pusat segala kesejukan dan keindahan dalam hidup ini ya kan? Seberapapun panjang digit account kita, seberapa banyak harta kita tetap saja yang bisa merasakan kita bahagia atau tidak adalah hati... ya hatilah pusat segala perasaan yang kita miliki.
Kita ambil contoh seorang ibu yang tengah mengandung ternyata mampu menjalani hari-harinya dengan sabar, padahal jelas secara duniawi tidak menguntungkan apapun. Yang ada malah berat melangkah, sakit, lelah, mual. Walaupun demikian, semua itu toh tidak membuat sang ibu berbuat aniaya terhadap jabang bayi yang dikandungnya.
Datang saatnya melahirkan, apa yang bisa dirasakan seorang ibu, selain rasa sakit yang tak terperikan. Tubuh terluka, darah bersimbah, bahkan tak jarang berjuang diujung maut. Ketika jabang bayi berhasil terlahir ke dunia, subhanallaah, sang ibu malah tersenyum bahagia.
Sang bayi yang masih merah itu pun dimomong siang malam dengan sepenuh kasih sayang. Padahal tangisnya di tengah malam buta membuat sang ibu kekurangan jatah istirahatnya. Siang malam dengan sabar ia mengganti popok yang sebentar-sebentar basah dan sebentar-sebentar belepotan ee bayi. Cucian pun tambah menggunung karena tak jarang pakaian sang ibu harus sering diganti karena terkena pipis si jantung hati. Akan tetapi, Masya Allah, semua beban derita itu toh tidak membuat ia berlaku kasar atau mencampakkan sang bayi.
Ketika tiba saatnya si buah hati belajar berjalan, ibu pun dengan seksama membimbing dan menjaganya. Hatinya selalu cemas jangan-jangan si mungil yang tampak kian hari semakin lucu itu terjatuh atau menginjak duri. Saatnya si anak harus masuk sekolah, tak kurang-kurangnya menjadi beban orang tua. Demikian pula ketika memasuki dunia remaja, mulai tampak kenakalannya, mulai sering membuat kesal orang tua. Sungguh menjadi beban batin yang tidak ringan.
Pendek kata, sewaktu kecil menjadi beban, sudah besar jadi nyusahin.  Begitu panjang rentang waktu yang harus dijalani orang tua dalam menanggung segala beban, namun begitu sedikit balas jasa anak. Bahkan tak jarang sang anak malah membuat durhaka, menelantarkan, dan mencampakkan kedua orang tuanya begitu saja manakala tiba saatnya mereka tua renta.
Mengapa orang tua bisa sedemikian tahan untuk terus menerus berkorban bagi anak-anaknya? Karena, keduanya mempunyai hati nurani, yang dari dalamnya terpancar kasih sayang yang tulus suci. Walaupun tidak ada imbalan langsung dari anak-anaknya, namun nurani yang memiliki kasih sayang inilah yang memuatnya tahan terhadap segala kesulitan dan penderitaan. Bahkan sesuatu yang menyengsarakan pun terasa tidak menjadi beban.
Oleh karena itu, beruntunglah orang yang ditakdirkan memiliki kekayaan berupa harta yang banyak, akan tetapi yang harus selalu kita jaga dan rawat sesungguhnya adalah kekayaan batin kita berupa hati nurani ini. Hati nurani yang penuh cahaya kebenaran akan membuat pemiliknya merasakan indah dan lezatnya hidup ini karena selalu akan merasakan kedekatan dengan Allah Azza wa Jalla. Sebaliknya, waspadalah bila cahaya hati nurani menjadi redup. Karena, tidak bisa tidak, akan membuat pemiliknya selalu merasakan kesengsaraan lahir batin lantaran senantiasa merasa terjauhkan dari rahmat dan pertolongan-Nya.
Allah Maha tahu akan segala lintasan hati. Dia menciptakan manusia beserta segala isinya ini dari unsur tanah; dan itu berarti senyawa dengan tubuh kita karena sama-sama terbuat dari tanah. Karenanya, untuk memenuhi kebutuhan kita tidaklah cukup dengan berdzikir, tetapi harus dipenuhi dengan aneka perangkat dan makanan, yang ternyata sumbernya dari tanah pula.
Bila perut terasa lapar, maka kita santap aneka makanan, yang sumbernya ternyata dari tanah. Bila tubuh kedinginan, kita pun mengenakan pakaian, yang bila ditelusuri, ternyata unsur-unsurnya terbuat dari tanah. Demikian pun bila suatu ketika tubuh kita menderita sakit, maka dicarilah obat-obatan, yang juga diolah dari komponen-komponen yang berasal dari tanah pula. Pendek kata, untuk segala keperluan tubuh, kita mencarikan jawabannya dari tanah.
Akan tetapi, qolbu ini ternyata tidak senyawa dengan unsur-unsur tanah, sehingga hanya akan terpuaskan laparnya, dahaganya, sakitnya, serta kebersihannya semata-mata dengan mengingat Allah. "Alaa bizikrillaahi tathmainul quluub." (QS. Ar Rad [13] : 28). Camkan, hatimu hanya akan menjadi tentram jikalau engkau selalu ingat kepada Allah!
Kita akan banyak mempunyai banyak kebutuhan untuk fisik ita, tetapi kita pun memiliki kebutuhan untuk qolbu kita. Karenanya, marilah kita mengarungi dunia ini sambil memenuhi kebutuhan fisik dengan unsur duniawi, tetapi qolbu atau hati nurani kita tetap tertambat kepada Zat Pemilik dunia. Dengan kata lain, tubuh sibuk dengan urusan dunia, tetapi hati harus sibuk dengan Allah yang memiliki dunia. Inilah sebenarnya yang paling harus kita lakukan.
Sekali kta salah dalam mengelola hati – tubuh dan hati sama-sama sibuk dengan urusan dunia – kita pun akan stress jadinya. Hari-hari pun akan senantiasa diliputi kecemasan. Kita akan takut ada yang menghalangi, takut tidak kebagian, takut terjegal, dan seterusnya. Ini semua diakibatkan oleh sibuknya seluruh jasmani dan rohani kita dngan urusan dunia semata.
Inilah sebenarnya yang sangat potensial membuat redupnya hati nurani. Kita sangat perlu meningkatkan kewaspadaan agar jangan sampai mengalami musibah semacam ini.
Bagaimana caranya agar kita mampu senantiasa membuat hati nurani ini tetap bercahaya? Secara umum solusinya adalah sebagaimana yang diungkapkan di atas : kita harus senantiasa berjuang sekuat-kuatnya agar hati ini jangan sampai terlalaikan dari mengingat Allah. Mulailah dengan mengenali apa yang ada pada diri kita, lalu kenali apa arti hidup ini. Dan semua ini bergantung kecermatan kepada ilmu. Kemudian gigihlah untuk melatih diri mengamalkan sekecil apapun ilmu yang dimiliki dengan ikhlas. Jangan lupa untuk selalu memilih lingkungan orang yang baik, orang-orang yang shalih. Mudah-mudahan ikhtiar ini menjadi jalan bagi kita untuk dapat lebih mengenal Allah, Zat yang telah menciptakan dan mengurus kita. Dialah satu-satunya Zat Maha Pembolak-balik hati, yang sama sekali tidak sesulit bagi-Nya untuk membalikan hati yang redup dan kusam menjadi terang benderang dengan cahaya-Nya. Amiin…

Senin, 07 Juni 2010


SEPENUH HATI
Dah cukup juga kita dengar orang bilang bersyukur ayo bersyukur tapi pada prakteknya perasaan itu tak kunjung kita rasakan, apa yang salah ya?

Asalamualaikum,,, Sering kita mendengar ungkapan ‘sepenuh hati’, sebenarnya seperti apa sih sepenuh hati itu? Kalo mau bicara tentang sepenuh hati baiknya kita pelajari dulu apa sih Hati itu? Banyak sumber yang menjelaskan tentang hati manusia, yang paling dominan adalah sebuah hadist yang mengatakan bahwa: baik buruknya manusia tergantung dari hatinya. Ga gitu kali bunyi hadistnya!!! Iya saya tau bunyinya yang pake daging – daging gitu kan :) masa begitu aja protes sih, kan sama aja artinya. Ya, ini adalah salah satu contoh penyakit hati yang harus dikenali, penulis menyebutnya penyakit kaku and lebay. :)
Sudah terlalu banyak sumber yang mengulas seputar hati, dari mulai puisi ungkapan hati, lagu cinta sehari – hari, sampai buku – buku tebel and berat seperti, Ihya Ulumiddinnya Al Gozali atau Al hikamnya Ibnu Attoilah. Tapi kenapa ya ko sepertinya semuanya terdengar begitu biasa di telinga kita? Kita seperti mengalami suatu kesulitan dalam merasakan makna perasaan yang coba disampaikan oleh penulisnya. Loh ko perasaan sih? Bukannya tadi kita bahas masalah hati? Ya tentu saja hati itu sudah include perasaan. Pada blog sebelumnya saya pernah mengulas hubungan antara perasaan dan karakter kita. Haduuuuh ko belum apa – apa penulis merasa ‘begah’ and agak agak ‘mblenger’ ya kalo ngomongin hati dan perasaan ini. Basiiiiiii banget kayanya, ah udah deh ga jadi nulis masalah hati, sudah cukup semua sumber – sumber mengupas tuntas masalah hati. Dari pada OMDO ( Omong Doang ) mending kita ganti topiknya yang agak jarang orang bahas ya... bagaimana kalo soal KEMAMPUAN MERASAKAN, nah... kalo begini penulis semangat lagi nih. :)
Pake perasaan dong!!! Dasar ga punya perasaan!!! Perasaannya dimana seh??!!! Sering ya kita dengar orang ngomong begini, pada saat orang ngomong begitu sebenarnya orang itu sedang larut dalam perasaannya sendiri dan dia ‘lupa’ bahwa setiap orang juga punya perasaan yang sama tapi tidak dengan kemampuan merasakan yang sama dan atau tidak dalam kondisi pengerasaan yang sama. Ribet amat sih kata-katanya. (yah di maklum aja ya namanya juga penulis amatiran, kalo pembaca kan ga ada istilahnya pembaca amatir he he he) Contoh gampangnya begini, suatu saat kita sedang berbicara mengenai suatu hal yang urgent dengan seseorang melalui HP, karena sinyal kurang bagus kita terpaksa mengulang kata berkali-kali pada saat yang menyebalkan ini tiba-tiba lewatlah sebuah motor sport dengan knalpot racing yang menggelegar dengan kecepatan yang tidak wajar. Akan menjadi hal lumrah dan sangat biasa bila kita spontan menjudment pengendara itu adalah pemuda berandalan doyan kebut – kebutan dan ga punya perasaan :) kenapa? ya karena pada saat itu kita sedang larut dalam perasaan kesal karena sinyal HP yang kurang baik. Hingga kita melupakan bahwa orang itu mungkin sedang larut dalam perasaannya. Bisa saja orang itu sedang resah berharap segera sampai di rumah sakit karena orang tuanya sakit parah atau panik karena istrinya mau melahirkan atau bisa saja orang itu sedang benar-benar sangat merindukan toilet? Ha ha ha bisa jadi kan :) ya gitu lah pokonya, artinya saat kita sedang larut dengan perasaan kita jangan sampai melupakan perasaan orang lain. Oke deh Pak Penulis saya mau tanya boleh kan, oh silahkan tapi jangan susah-susah ya jawab Penulis sambil senyum manis :) ( lama-lama nulis gw bisa dicap dual personality and rada gokil, gimana ga, lah wong gw yang nanya, gw yang jawab sendiri sambil kadang-kadang ketawa geli and senyum-senyum sendiri kalo sambil nulis keluar ide-ide lucu )ha ha ha that’s what I love for being a writer, Sumpah deh tulisan sendiri itu sangat enak dibaca oleh kita sendiri, we are perfect in our own perfection.
Sampe dimana tadi? Ada yang tanya ya? Ya oke, mau tanya apa? Ini sudah ending apa masih opening? Oh itu, masih opening nih kita. :) lanjut ya, serius nih. ya kita sudah mulai memahami bahwa baiknya kita tidak selalu terbawa oleh perasaan. Kenapa tidak? Bukankah perasaan yang menentukan bahwa seseorang itu bisa bahagia atau tidak. Jawabanya adalah TIDAK. Yang bisa menentukan kita bahagia atau tidak bukanlah perasaan, perasaan hanya sebuah alat untuk merasakan. Sedangkan kita bahagia atau tidak adalah berdasarkan keputusan kita, untuk menjadi orang bahagia dengan memposisikan perasaan kita dalam kondisi yang memungkinkan kita untuk bisa bahagia. Contohnya adalah perasaan bersyukur, perasaan ini adalah perasaan terhebat yang memungkinkan seseorang untuk bisa bahagia. Ya perasaan ini kalo dah terbit langsung dari dalam hati kita rasanya dunia ini indah banget, hati tenang and tentrem, karena saat orang bersyukur dia sudah merasa bahwa dia adalah orang yang ‘cukup’ dalam artian dia telah merasa benar-benar puas dengan apa yang dimilikinya sehingga sudah tidak ada ruang lagi untuk menderita karena kurang ini kurang itu pengen ini pengen itu yang ga kesampaian. Saat perasaan bersyukur itu datang, nikmatilah, karena perasaan itu adalah anugrah, dan sebuah anugrah pulalah kita diberi kesempatan merasakannya. Betapa menderitanya orang yang tidak diberi nikmat bersyukur ini, aduuuuuuh... penulis juga pernah ngerasain hidup selalu merasa kurang ampun deh selalu merasa jadi orang yang paling miskin and menderita :) kesel ‘n BT sahabat setia yang selalu menemani. Bawaannya skeptis ‘n jutek ama orang, ya memang pada saat itu penulis merasa bahwa semua orang ga ada yang mau mengerti. Wah era jahiliyah banget deh :) loh loh loh ko jadi curhat? Ya namanya juga sharing, lah kalo ga ngalamin apa yang disharing? Mau sharing Teory? Iya kalo bener, kalo salah? Apa ga jadi double trouble!!! Ya sampai suatu ketika.... muka penulis langsung membayang, sountrack ‘dramatic melody’ ON,.. suara penulis langsung di dub ama Narator.. diselingin wwwwuuuuss. Suara angin.. ha ha ha ha jadi drama gini sih. :) udah ah serius... :)
Dah cukup juga kita dengar orang bilang bersyukur ayo bersyukur tapi pada prakteknya perasaan itu tak kunjung kita rasakan, apa yang salah ya? Ngomong mah gampang!!! Bersyukar bersyukur aja liat dong kondisi gw!!! Lo mah enak, coba lo jadi gw!!! Wah bro..!!! kalo ditanya apa penulis mau punya bank, private Island, personal jet, nabila sakieb as second wife, anjelina jolie yang ketiga... wah ya mau banget... tapi apa dengan semua itu kita bisa bahagia? Senang beberapa waktu sangat mungkin, tapi kalo bahagia? Belum tentu bro... :) buktinya banyak juga pemilik bank yang masuk RS karena stres, bahkan di jepang, negara yang katanya maju n makmur, tingkat orang bunuh dirinya tinggi banget, hampir tiap hari ada. high level sucidal tendensis, ngeri. Selebriti hobbynya pada kawin cerai ya karena selalu merasa kurang itu... ya ya ya dah jangan banyak omong deh, solusinya gimana? Harus sabar banget kalo ngadepin penanya judes kaya penulis dulu :) (thanks buat sodara2, teman2 yang dah sabar ma gw dulu. Special thanks buat Om rey... makasih Om)
Solusinya adalah dengan berusaha ‘menyerah’ dan ‘menerima’ ada lagi nih berusaha menyerah, iya selain kepala batu, manusia adalah makhluk super PeDe, selalu merasa bahwa dirinya mampu melakukan segala sesuatu tanpa bantuan tuhan... ah gw mah ga gitu, gw mah selalu mengandalkan tuhan... sumpe lo? Berani samber gledek? Apa bener? Begitu? Bener dooooong!!! Yakin lo? Bahkan saking PeDenya manusia merasa dirinya bisa berjalan sendiri. Padahal kita bisa berjalan adalah kerena kita dikasih bisa. Sampe disini timbul pikiran macem dikepala pembaca, ya kalo begitu mah repot atuh... ya repot memang tapi kalo mau sesuai prosedur ya harus begitu kan ;) yah iya sih tapi yang bisa begitu mah nabi cuma doang kali, buat kita yang biasa-biasa aja gimana dong... nah buat kita yang biasa-biasa ini cukup sadari saja dan tancapkan kesadaran itu dalam-dalam bawa semua yang biasa kita anggap kita bisa itu, adalah karena Alloh mengaruniakannya kepada kita. Sadari dulu dengan sesadar-sadarnya, dengan ‘ngeh’. Kadang kita mengerti sesuatu kalo ditanya apa sudah paham? Sudah mengeti? Ya pahammmm, ya ngertiiii tapi kita ga ‘ngeh’ apa yang sudah kita pahami atau sudah mengerti. Jangan tanya sama penulis kenapa? Tanya diri sendiri aja kenapa?
Setelah ’ngeh’ dan menyadari bahwa semuanya adalah karenaNya maka kita akan merasa sangat ’payah sekali’ lemah dan begitulah... karena memang begitu adanya.  Maka sudah sepantasnyalah kita menyerah sambil mengangkat kedua tangan kita ”Allahuakbar”, lalu mulai menapaki hidup ini dengan berusaha untuk menerima apa yang digariskan oleh Alloh untuk hidup kita ini... seberapa pasrah kita menyerah dan seberapa besar kita harus menerima adalah bentuk dari kehambaan kita kepadaNya. sampai disini penulis agak kurang PeDe buat lanjutin cerita karena penulis sendiri masih berjuang untuk selalu istiqomah,.. duh kalo langkah kita ga dituntun oleh Alloh,... nyasar deh...udah yah.
Loh diatas tadi bilang kita mau bahas kemampuan merasakan, ko tau-tau habis.? He he he he ya dipraktekin dulu yang dibaca dari atas sampe kebawah. Baru nanti kemampuan merasakan akan timbul dari dalam diri dengan sendiri-Nya. Kalo cuma baca trus ga amalkan ( dilakukan ) buat apa? Capeeeeee kali penulisnya :) semoga bermanfaat ya... :)
Wasalam.. ciaooooo.... :)

ranu_the_ocean@yahoo.com
http://ranu-mulyana.blogspot.com

Sabtu, 29 Mei 2010

Tuhanku Maha SemauNya

Tuhanku Maha SemauNya

“Bila Dia bisa diatur maka Dia bukan tuhan kita”


Al kisah, disebuah dusun terpencil bla bla bla... kenapa banyak dongeng-dongeng waktu kita masih kecil sering diawali dengan kata-kata semacam itu ya? Entah pendongengnya yang kurang kreatif atau ceritanya diperuntukan untuk anak-anak ya? Ga tau deh, yang pasti setiap kita mau mulai sebuah tulisan tentang suatu cerita maka kata-kata ini pasti dengan segera muncul dikepala kita, selidik punya selidik ternyata otak kita selalu menampilkan apa yang sering kita pikirkan. Entah pikiran itu kita dapat dari lingkungan sekitar atau dari diri kita sendiri.
Terlepas dari apakah itu pikiran baik atau pikiran buruk pasti akan ditampilkan dalam ingatan kita, oleh karena itu dalam islam selalu diajarkan agar kita setiap saat mengingat-Nya, saya ga akan menampilkan dalil dari Al Qur’an atau Hadist karena saya tahu bahwa pembaca sekalian pastinya lebih paham dengan Ayat dan Hadist yang dimaksudkan, bahkan sebenarnya ga perlu juga saya membuat tulisan ini karena sebenarnya para pembaca juga sudah sangat memahami dengan apa yang saya tuliskan, ( biar tulisannya keliatan cool and terkesan rendah hati padahal lupa dalilnya... ;), tapi karena prinsip otak yang selalu mengikuti trend yang sering kita pikirkan maka sebenarnya tulisan ini hanya sekedar pengingat, agar otak selalu menampilkan pemikiran yang religius, semakin sering mengingat maka akan semakin tenanglah kita, orang tenang biasanya bahagia, dan hanya dengan mengingatNyalah hati akan menjadi tenang.
Apa? Mau nanya dalilnya? Ngga ya? Engga kan? Jangan deh soalnya penulis sangat sensi kalo ditanya dalilnya surat apa? Ayat berapa? Hadist apa? Perawinya siapa? Ampuuun deh ya penulis juga manusia biasa, ribet kali kalo harus ngapalin semua ayat yang 6666 itu tambah lagi ribuah hadist, apalagi kita dituntut ga sekedar hafal tapi juga harus paham dan menjalankannya... beuuuh... beraaaaat boss... memang ada sejumlah ulama atau apalah gitu yang sudah special dipersiapkan oleh Allah untuk melakukannya, nah buat kita yang biasa-biasa aja gimana? Ya kita pake hati dan pikiranlah, berbuat yang baik, bicara yang baik, sopan, ramah, tulus, dll, ya pokonya yang baik-baik ajalah, pastinya akan sesuai dengan ajaran Al Quran ‘n Hadist. Iya bener sih tapi kan kadang kita butuh pedoman dalam mengambil keputusan mau bertindak seperti apa?, Baiknya bagaimana?, kadang kalo kita ngikutin perasaan hati saja ko kayanya masih meragukan ya, padahal sesuatu yang meragukan itu kan ga baik, nah untuk alasan itulah kita perlu banyak mengingat Allah, dengan banyak mengingatnya hati ini akan semakin tenang, hati ibarat air, dan pikiran adalah gelombangnya, hati akan merefleksikan segala sesuatu dengan sangat jelas bila seseorang mampu menenangkan pikirannya. Ya dengan banyak mengingat itu tadi. Contoh... ( blog yang kemaren ada masukan buat penulis harus kasih contoh yang simple2 aja, ok masukan diterima :) ) contoh simplenya begini: iseng – iseng kalo ada orang lewat depan rumah kita timpa pake batu, kira2 perlu orang hafal Al Quran dan Hadist ga buat menilai perbuatan kita itu salah atau benar? Waktu kita mau melakukan hal yang kurang baik itu pasti dalam hati kita ada yang akan mengingatkan bahwa itu perbuatan yang ga baik, ya kan? Ya kalo contohnya sesimple itu mah gampang, tapi kalo dah dalam pengambilan keputusan yang rumit dan sangat pelik kan harus ada pedoman baku.!!! :) penulis bukannya mau bilang ga usah baca Al Quran ‘n hadist waduh jangan sampe salah tafsir ya, buahayaaa... penulis bisa langsung dideportasi ke neraka ih sereeem......
Maksud penulis adalah bila kita sering mengingatNya hati kita akan sangat mudah untuk memahami kandungan dan isi Al Quran dan hadist itu sendiri, begitu maksudnya loh, Al Quran dan Hadist harus sering-sering dibaca ya. jadi semakin kita sering mengingatnya semakin tenanglah hati kita ini semakin jelaslah batasan antara baik dan buruk. Eiiiitts, ga semua permasalahan tentang baik dan buruk, hitam dan putih, diantara itu juga ada area abu-abu. Sesuatu yang ga jelas. He hehe kalo memang dah ga jelas ngapain dibahas. :)
Tidak bisa dipungkiri bahwa kita manusia ini selalu bergumul dengan permasalahan area abu-abu, hingga timbul suatu perdebatan yang seharusnya ga perlu dilakukan, saling adu pengetahuan, saling adu hafalan, saling unjuk kebolehan, kalo mau jeli memahaminya, inilah area abu-abu itu. Hanya dalam sebuah perdebatan dan adu argumenlah area abu-abu itu muncul, sangat membingungkan saat semuanya mengklaim sebuah kebenaran. putuskan saja keberpihakan kita mau pada area mana? Mau salah kah? benar kah? Pastinya kita pilih yang benar kan, kebenaran sejati ada di dalam hati. Ga peduli seberapa pandai kita berceloteh, ngoceh ngalor ngidul, omong ini omong itu, kita tau bahwa sebenarnya hati kita berkata apa. Kecuali orang yang sudah terbiasa membohongi diri sendiri, orang yang sudah dikunci hatinya oleh Allah. Tiada suatu kebenaran apapun yang bisa dipahaminya. Nauzubillaminzalik. Semoga Allah mengampuni kita hingga terbukalah pemahaman dihati kita bahwa diri kita dan alam semesta ciptaan tuhan ini juga merupakan ayat-ayat yang mengagungkan namaNya. Allahu Akbar.
Well, kayanya cukup openingnya, busyet dah, openingnya panjang beneeeeer harus dikasih kesimpulan dulu ya biar ga lupa. Intinya kita harus banyak mengingat Allah agar hati kita tenang dan bersih. :) Cuma segitu aja ko penjabarannya panjang bener!!! Ya iya memang sudah begitu kenyataannya. Tugasnya nabi kita juga kan sebenarnya simple, ‘hanya’ untuk memperbaiki ahlaq. Tapi persenjataannya kan 6666 ayat dan ribuan hadist yang semuanya pada intinya adalah untuk perbaikan ahlaq dan membimbing orang untuk menjadi baik, serta menanamkan kepasrahan yang dalam pada Ilahi.
Baiklah para pembaca sidang blogger yang saya hormati (kaya jum’atan aja :)) kita lanjut ya, setelah berjuang dan berusaha jadi orang baik dan berhasil jadi orang baik ada satu syarat lagi yang kadang kita lupain, karena seringnya kita berbuat baik dan beramal sholeh, ya namanya juga manusia kadang kita merasa udah aman kalo dah melakukan kewajiban dan menjauhi larangan cihuy enjoy lupa ma tuhan, yang harus kita ingat selalu adalah bahwasannya tuhan kita itu punya sifat berkehendak artinya, mau-maunya Dialah, suka-suka Dialah, namaNya juga tuhan mau kita dah beramal siang malem, sujud ampe nyungsep, jidat ampe totol-totol item,  kalo Allah berkehendak kita masuk neraka ya masuk dah kita ke neraka, lha Dia Jagoannya. Sifat berkehendaknya Allah itu kalo kita tafsirkan dalam bahasa mudahnya akan seperti ini:
“Mau orang baik masuk neraka atau orang jahat masuk surga Ya terserah Saya dooong…” ya iyalah Tuhanku harus Maha SemauNya ga boleh ada sesuatu yang mengaturNya. Bila dia bisa diatur maka dia bukan tuhan kita. Ga ada sesuatu apapun yang berkuasa atas diriNya kecuai diriNya sendiri.
Ada sebuah riwayat yang menceritakan bahwa ada seorang pemuda, kita sebut saja namanya Tommy (waktu hamil ibunya ngidam soto mi :)) piss Tom :) alkisah si Tommy ini sedari kecil sampe dewasa, setiap hari kerjaannya sholat, ngaji, sering membantu ibu, ramah pada teman, giat bekerja, singkatnya si Tommy ini baik bangetlah pokonya, karena bener-bener baiknya si Tommy ini sampe-sampe infotainment langit tiap hari nyiarin dia, dia jadi bahan pembicaraan para malaikat dan tiap hari malaikat-malaikat itu berdoa buat dia. Jibril yang jadi kaptennya malaikat itu sampe heran ko ada ya orang bisa sebaik ini, jarang-jarang ada orang begini, tapi namanya manusia pasti punya salah, coba saya lihat dulu catatan orang itu kata Jibril dalam hati. Login deh Jibril di web langit, browsing... browsing... dapet juga catatan kehidupan si Tommy, sambil terkagum-kagum dibaca halaman demi halaman kehidupannya si Tommy, baik semua, ck ck ck mantaaap... kata Jibril sambil geleng –geleng, Tapi pas sampe halaman terakhir Jibril kaget,.. et dah!!! ( sory bahasa aslinya keluar :) kan kata nabi, biar paham sampaikanlah dalam bahasa kaummu sendiri, betawi gpp ya :)) bujug.., ga salah nih catetan? Jibril bingung karena mendapati tulisan akhir hidupnya si Tommy dinyatakan masuk Neraka!!! Haaaaah,,, :O akhirnya Jibril datang menghadap Allah.
Ya Allah ya Robbi, Ampun ya Allah hamba barusan login ke Lauhil Mahfudz (kitab kehidupan) kayanya ada catetan yang aneh deh, hamba tadi lihat catetan manusia yang akhir-akhir ini sering disiarin di Infotainment Langit, si Tommy ya Rob, kok dia akhirnya masuk neraka ya? Padahal selama hidupnya dia berbuat baik, tanya jibril kebingungan. Hey Jibril, You lupa ya Aku ini Tuhan bril..., terserah Aku dong, mau-maunya Aku dong, kata Allah. Jibril bengong sambil bilang,.. oh iya ya...semua pasti terserah padamu ya Robbi, ya oke lah kalo beg beg beg begitu, hamba mohon izin mau turun ke dunia sebentar ke si Tommy, mau ngucapin turut bersedih atas nasibnya. boleh kah ya Allah? Ya boleh, silahkan. Kata Allah.
Turun deh jibril ke dunia, cuuuussss... syuuuut.... langsung sampe didepan si Tommy, Assalamualaikum, Tom, saya Jibril. Waalaikum salam jawab Si Tommy dengan nada yang lembut and tenang banget. Ada apa ya Jibril engkau berkenan datang kepadaku? Lanjut Si Tommy kalem. Jibril berkata sambil pasang muka melas, Sorry ya Tom, saya datang bawa kabar buruk, saya mau bilang kalo kamu nanti masuk neraka.
Alhamdulillah, kata Si Tommy sambil mengusap dada and install muka polos. Loh kok malah bersyukur Tom, kata Jibril bingung. Ya Jibril, aku bersyukur karena engkau telah memberitahu aku, aku jadi sadar selama ini aku memang beramal soleh untuk mendapat surga Allah. Amal-amalku tidak benar-benar tulus mengharap ridhoNya. Jawab Tommy sambil ngusap airmatanya yang sontak rembes. Aduuuuuh,,, kasian banget lo Tom, Ga tega lama-lama Jibril langsung bilang, Ya udah deh, saya pamit ya, saya mau balik lagi. Assalamualaikum. Kata Jibril. Waalaikumsalam, kata Tommy.
Weeees, sampe lagi Jibril di Langit, langsung menghadap Allah, ya Allah ya Robbi, hamba heran dengan hambaMu yang satu itu, hamba kasih tau kalo dia bakal masuk neraka eh dia malah bilang Alhamdulillah. Jibril... Jibril.. kalo mau heran itu harusnya kamu heran sama Aku, Aku ini yang menciptakan Si Tommy itu, sudah sana kamu lihat lagi catatannya si Tommy, kata Allah. ga berapa lama Jibril balik lagi dengan muka yang tambah bingung, Kenapa Bril? Kata Allah, Ampuuun Ya Rob, ko barusan saya check tuh catatan dah berubah ya? Si Tommy jadi masuk surga. Iya Bril, karena dia sudah ridho atas ketentuanKu maka ia layak mendapat surgaKu.
Subhanallah.....

Waduh, terus gimana cara untuk pastinya biar kita bisa selamet masuk surga? Ada, yaitu tadi dengan berpasrah dan berbuat sesuatu untuk mendapat ridhonya, sepasrah-pasrahnya, seikhlas-ikhlasnya sampai kita ga peduli lagi kita mau dimasukin ke surga kek ke neraka kek... sulit ya? Bukan sulit lagi tapi suleeeeetttttt buangeddd... tapi ada tapinya nih, ini beruntungnya kita orang islam ini tuhannya Maha Pengasih dan Maha Penyayang oleh karena itu kita harus terus berusaha memperbaiki diri sehingga layak untuk mendapat ridhoNya.
Walaupun pastinya sulit sekali, setidak-tidaknya kita sudah berusaha, kebayang ga kalo kita ga berusaha? Minimal kalo kita dah berusaha kan ga penasaran.. :) kalo ada yang bilang: ‘sampai mati aku jadi penasaran hi hi hi sambil nangkring diatas pohon mainin rambutnya yang panjang terurai…  itu jelas dia ga berusaha. Tapi insyaallah pastinya akan mudah bila perjuangan kita diridhoi oleh Allah. Amiiin
Udah ya... loh ko? Pembukaannya segitu panjangnya ko tau tau ending,.. ya iya toh, hidup ini juga kan begitu, lagi enak enak kita jalanin ga taunya SIH (Surat Izin Hidup) kita dah dicabut... ya... abis deh. Makanya mumpung kita masih hidup, mumpung tobat kita masih laku, yuk mari kita sama-sama perbaiki ahlaq kita, kasian nabi kita yang kita tau dah mati-matian dia berjuang, dah cape-cape beliau ngajarin dari sahabat ke sahabat sampe ke kita, masa ga kita jalanin ya. Kan kayanya basiiiii banget kalo kita sering bilang kita Muslim tapi ga benar-benar melakukan apa yang dilakukan orang Muslim,,, tapi ya ga usah pesimis, manusia memang tempatnya lupa, yang penting kita dah berusaha. Ya udah, Closingnya kita berdoa yu buat nabi kita yang Special Edition itu, Ya Allah, Makasih banget ya Allah tlah kau kirimkan sosok manusia sempurna untuk mengajari kami ke jalan yang Engkau ridhoi. Amiiin. Ya Allah sungguh kami hanya bisa berusaha, semua adalah sesuai kehendakMu... maka kasihanilah kami wahai dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.... Amiiiiin.....


ranu_the_ocean@yahoo.com
http://ranu-mulyana.blogspot.com

HUJAN


HUJAN

Datanglah,

Banjiri kekeringan jiwaku

Akhiri segala keluh kesahku


Hujan datanglah,

Perangi tandus sahara hatiku

Habisi prahara pikiranku


Wahai Hujan,

Meresaplah disetiap keresahanku

Merasuklah dalam sukma nelangsaku


Hujanku,

Tuntaskan semua rinduku

Habisi awan gelap keterpisahanku

Agar dapat kulihat matahariku

Sinari tiap langkah hidupku

Dalam setiap mimpi siang malamku



Ranu Mulyana
ranu_the_ocean@yahoo.com
http://ranu-mulyana.blogspot.com

Sabtu, 22 Mei 2010


TEPI MALAM
Disini,

Saat dingin mendekap para penidur yang terlena dalam mimpi

Saat para pemuja nafsu pulang dari tempat penyiksaan hati

Saat para pendosa bermunajat memohon ampunan

Saat para pendoa kerap memaksa tuhan untuk mengabulkan keinginan


Disini,

Saat haru begitu mudah menyeruak hati

Saat kebohongan yang tak berdaya mengumpati

Saat airmata luruh membasahi

Saat yang tepat mengingat mati


Disini,

Saat suara suara gaduh itu tak terdengar lagi

Saat detak jantung terdengar seperti derap berjuta kaki

Saat suara hati kadang terdengar menghakimi

Saat semuanya menjadi tak biasa lagi


Disini,

Saatnya melihat pelangi dalam hati

Saat cahayanya menerangi

Saat kemurahannya begitu membumi

Saat kerinduan begitu merajai



Ranu Mulyana

Pilihan Hidup VS Tujuan Hidup


Pilihan Hidup VS Tujuan Hidup

“Apakah tujuan hidupmu?” Maka sering kali jawaban yang keluar adalah sebuah pilihan hidup, lalu apakah bedanya tujuan hidup dan pilihan hidup?

Pilihan hidup VS Tujuan Hidup, hmmm… ada semacam lost pemahaman bila kita dihadapkan dengan pertanyaan seperti itu. Ya, kita kerap kehilangan pengertian bila menyangkut pemahaman kehidupan, entah darimana tumbuhnya pengertian bahwa hidup ini tidak perlu dipahami, hidup biarkan saja berjalan apa adanya, goin with the flow… sebenernya saya setuju dengan istilah seperti itu tapi masalahnya adalah kadang kita benar – benar hanyut dalam hidup ini, kita menjalani hari demi hari berharap ada suatu perubahan dramatis yang langsung mengubah hidup kita. Keep dream on pal.., hidup tak akan berubah jika bukan kita sendiri yang merubahnya.
Pilihan hidup adalah sebuah keputusan bahwa kita memilih menjalani hidup ini seperti apa, kita bisa memilih menjadi artis, atlet, pengusaha, pedagang, atau bahkan penganggur, loh ko penganggur? Siapa yang mau nganggur? Banyak. ‘Ga bisa begitu dong, saya dah berusaha mencari kerja kesana kesini tapi belum dapat pekerjaan’. bantah teman saya yang penganggur. Well, rupanya teman saya ini lupa kalo saya juga dulu pernah nganggur  saya juga tau bagaimana rasanya ada pada posisi itu, kalo saya analisa dulu saya menganggur karena saya mencari pekerjaan yang saya inginkannya, yang mungkin diinginkan oleh ribuan bahkan jutaan orang lainnya, padahal banyak pekerjaan yang mungkin agak jarang peminatnya, bahkan tanpa modal sedikitpun, makelar, biro iklan, jadi pak ogah, sales, penulis, dll. Memang memilih profesi – profesi seperti itu membutuhkan perjuangan yang tidak mudah, tapi jelas itu sebuah profesi yang terhormat, menghasilkan dan bukan penganggur. Jadi waktu saya menganggur dulu juga merupakan sebuah pilihan hidup. Sukses itu adalah kita mau melakukan sesuatu dan kita bisa melakukannya, sama juga dengan kita tidak mau melakukan sesuatu dan kita tidak melakukannya. Itu juga sebuah kesuksesan.  lalu kalo tujuan hidup itu apa?
Tujuan hidup adalah pilihan akhir dari hidup kita ini mau kemana? Maksudnya gimana? Tuh, pasti keluar pertanyaan kan,  Maksudnya begini, pertama saya mau tanya apakah anda percaya kehidupan setelah mati? Bila anda tidak percaya anda dipersilahkan untuk berhenti sampai disini, tapi bila anda percaya bahwa ada kehidupan setelah mati bahwa kita tak hanya sekedar hidup secara kebetulan dan mati.
Ya, sebagai umat beragama sedari dini kita telah diajarkan bahwa tujuan hidup kita adalah untuk beribadah, serius nih? Apa bener? Ya benar dong! He he he. Menurut analisa penulis yang belum tentu benar, pelajaran yang semenjak dini kita terima itu juga belum tepat, haaaah belum tepat?, maksudnya belum tepat gimana? ya belum tepat. Bila kita mengisi hidup kita dengan beribadah maka itu adalah pilihan menjalani hidup ini. Nah terus tujuan hidup kita apa? Ya tujuan hidup kita adalah bisa kembali kepadaNya, dalam islam disebutkan innalillahi wa inailaihi rojiun, asal dari Allah akan kembali ke Allah. Begitu kan? Begitu ya? Begitukah? Yang jadi catatan adalah apakah kita bisa kembali ‘pulang’? dengan benar dan selamat? Ya insyaallah kalo kita berusaha sepenuh hati dan khusuk pasti bisa,.. tapi seperti kebanyakan orang kadang kita melupakan syarat mutlaknya itu tadi, ya? Apa iya? Ya begitu deh.
Syarat mutlaknya adalah sepenuh hati dan khusuk, hmmm yang dimaksud sepenuh hati dan khusuk ini pastinya menuntut pemahaman lebih lanjut (insyaallah next blog ya). Menurut standard pemahaman saya yang awam ini, bila kita mati kita akan dikubur, lalu tunggu sampe kiamat, kita dibangkitkan lagi, peradilan, terus dijudgement kita masuk sorga atawa neraka. Sampai disini saja pemahaman saya. Lalu apanya yang pulang ke Allah?
Beberapa waktu lalu saya baca posting seorang teman di Facebook, bunyinya begini: “Berhentilah menganggap tubuhmu sebagai dirimu”. Trus ada yang kasih comment begini, “Lah, kalo bukan tubuh ini terus tubuh yang mana?” disini jelas ada perbedaan pemahaman mengenai tubuh, antara teman saya yang satu dan lainnya.
Bila kita mau berpikir sejenak, ya sejenak aja meluangkan waktu siapa diri ini? Tentunya akan muncul banyak sekali pertanyaan – pertanyaan yang sangat mendasar pada diri ini, bahkan hadist qudsi yang sangat populer menyebutkan: “siapa yang mengenal dirinya akan mengenal tuhannya”. Sungguh suatu PR yang sangat pelik untuk sekedar kita dengarkan. Perihal jati diri kita yang sesungguhnya, pastinya bukan Cuma sekedar tubuh atau jasad ini saja. Buat referensi saya pernah browsing mengenai ‘tubuh’ manusia dan yang saya dapat sungguh banyak, dari mulai ilmu klenik perdukunan, meraga sukma, quantum, sampai pelajaran OBE (Out Body Experience/pengalaman keluar dari tubuh) disebuah universitas di Amrik. Ya, sampai segitunya mereka berusaha menjawab pertanyaan klise yaitu jati diri manusia, dan kita yang nota bene orang yang percaya akan kehidupan setelah mati kadang diam saja dan menelan bulat-bulat ajaran yang kita percayai tanpa melakukan sebuah usaha-usaha apapun untuk menjawab pertanyaan ini. Lalu saya tarik kesimpulan bahwa semua hal yang diketahui manusia merujuk bahwa manusia memiliki tubuh kasar (jasad) dan tubuh halus (ruh). Nah, ruh inilah yang pasti akan kembali kepada Tuhannya. Yang jadi perhatian saya adalah bagaimana ruh bisa kembali?
Banyak posting dari berbagai sumber menyebutkan atau menceritakan pengalaman ‘keluar’ dari tubuh. Wuiiih, Jujur, sebenarnya saya agak ngeri juga membacanya, saya sangat normal, mati merupakan momok terbesar dalam hidup saya, saking takutnya sampai saya putuskan bahwa mati harus saya pelajari dan persiapkan. Siapa seh yang ga ngeri membayangkan kematian. Tapi semua yang hidup pasti mati, kecuali yang maha hidup. Suka atau tidak, berani atau takut, mati adalah sesuatu yang pasti, kita bisa pura-pura ga peduli, pura-pura lupa tapi mati harus kita alami. Sorry kalo dari tadi tulisan saya jadi membahas kematian karena memang tujuan hidup manusia yang sebenarnya ada pada saat kita sudah mati, ya kan?
Well, bila sudah dipahami perbedaan pilihan hidup dan tujuan hidup mari kita selaraskan pilihan hidup kita untuk mencapai tujuan hidup kita. Jadilah man in action dalam pencapaian tujuan hidup kita. Selamat berjuang ya pembaca sekalian, bukanlah hal yang mudah untuk kita sekedar survive sampai tujuan, begitu panjang jalan yang harus ditempuh, begitu banyak tanjakan, lubang dan tikungan. Yang perlu diperhatikan dalam suatu perjalanan adalah selalu mematuhi aturan dan rambu-rambu yang ada dan ingatlah selalu gunakan akal sehat dan hati nurani untuk memahami rambu-rambu tersebut sebagai contoh bila dalam suatu rambu tertulis: ‘minimal speed 40km/jam’ maka turutilah ketentuan itu, tapi kalo macet ya.., harus flexible dong jangan ngotot memaksakan harus speed sesuai rambu  ya toh, jangan terlalu kaku memahami sebuah peraturan, jalani saja sesuai situasi dan kondisi yang wajar. Insyaallah akan sampai tujuan dengan selamat. Amiin.



Ranu Mulyana
ranu_the_ocean@yahoo.com
http://ranu-mulyana.blogspot.com

Minggu, 16 Mei 2010

HARE GENE JADI SUFI…?


HARE GENE JADI SUFI…?
Ha ha ha…….
Pertanyaan ini yang pertama kali terlontar dalam benak gw beberapa waktu yang lalu, ya memang pertanyaan seperti ini manusiawi banget, apalagi buat orang yang awam seperti gw, “hare gene jadi sufi? Wuiih yang kebayang orang bejenggot pake jubah, jidatnya yang pada item gitu deh kebanyakan sujud, kebanyakan orang awam akan menilai seperti itu, Judge things by they colour, so naïf”. 
Mau setuju atau tidak, mau suka atau tidak suka kebutuhan akan tuhan akan selalu ada, apalagi dijaman yang serba ajaib n serba semerawut ini, yang bener jadi salah yang salah jadi bener yang bingung makin linglung yang pusing makin ruwet yang senang makin ngawur,… wah kacau deh, ga percaya? Coba deh, dalam sehari, ya sehari aja kita coba jadi orang bener,.. busyeeeeet, kita akan langsung jadi alien. Karena dunianya dah ga beres, saat kita beres kita jadi keliatan super aneh. What the freak world!!!!
Kita kembali lagi ke masalah kebutuhan basic manusia akan tuhan, dari jaman iblik-iblik dah banyak agama yang mengajarkan tentang kebutuhan dasar ini, gw yakin sampe hari ini pun semua orang masih setuju kalo gw bilang kita butuh tuhan. Tapi…. Tapi…tapi.. nah masih banyak tapi, tapi, tapi, tapi itu, kenapa? Ya karena dah tumbuh semacam penyakit bahwa kalo kita bicara soal ketuhanan mendadak kita jadi kehilangan mood n jadi BT, karena kita kerap mendapat doktrin atau input yang kurang tepat, ya dikebanyakan orang saat bicara masalah ketuhanan yang terlintas dalam pikirannya adalah ga boleh ini ga boleh itu, harus begini harus begitu seakan tuhan menjelma menjadi sosok yang merampas kebahagiaan mereka. Tuhan dalam skenario pikirannya hanya sebagai pengabul doa, tuhan baik bila mengabulkan keinginannya, tuhan jahat bila tidak mengabulkan, ini membuat semacam kontradiksi halus didalam pikiran kita, ga heran kalo dah bicara masalah tuhan kita jadi geraaaaaaaah. Dan yang lebih tragis lagi kita malu atau bahkan takut dicap ga beragama bila mengakuinya. Dalam pikiran kita kadang timbul pertanyaan apa bener tuhan itu ada? Padahal dalam hati yang paling daleeeeeeem banget kita tau kita butuh tuhan. Akhirnya jadilah kita pembohong hati nurani, hati kita dibelenggu kita jarang lagi mendengarkan suara hati, kita selalu bermain dalam area pikiran dan logika, alamaaaak… kita menggunakan akal untuk menjangkau tuhan yang jelas-jelas tak dapat tersentuh akal, bahkan terlintas dalam pikiranpun tidak. Dalam prinsip pikiran, sesuatu itu ada bila mangamini salah satu 5 konsep dasar kebendaan, Sesuatu bisa dikatakan ada bila dapat disentuh, dilihat, dirasa, dicium atau didengar. Pikiran kita sudah terpolakan seperti itu, jadi saat keyword tuhan diloginkan kedalam pikiran yang muncul adalah announ object! Atau bad command error!.  kalo dah begini ampuuuun deh. Trus gimana dong kita bisa meyakini keberadaan tuhan, ya dengan apalagi kalo ga dengan hati dan perasaan.
Nah, sekarang timbul lagi pertanyaan dalam kepala gw, loh ko pertanyaan melulu seh…? Ya memang begitu banyak pertanyaan yang keluar dari pikiran kita, pertanyaan klise masalah diri ini. Siapa kita? Ngapain kita hidup? Mau kemana setelah hidup? Well, selama ini kita dijejali kata orang tua, kata guru ngaji, kata lingkungan bahwa kita itu hamba tuhan, hidup untuk beribadah, setelah mati kita mudah-mudahan masuk sorga. Ajaran yang Perfect. Tapi, ada tapinya nih, anehnya kita semakin bingung dengan yang kita pahami. Ajaran hidup yang seharusnya menjadi pedoman dan penunjuk jalan dalam kehidupan ini ko sepertinya hanya tinggal tulisan dan ingatan didalam kepala kita, hidup kita kerap dilanda berbagai persoalan yang datang tak kenal waktu, Apa yang salah ya? Yang jadi permasalahan adalah kita menelan bulat-bulat apa yang diajarkan oleh guru – guru kita, coba inget – inget kapan terakhir kita diajarkan tentang agama kita itu… loading…. Loading… loading… kenapa aga sulit mengingatnya? Ya karena dah lama banget, waktu kita masih SD kali. Artinya pemahaman keagamaan yang menjadi dasar kehidupan kita adalah pemahaman anak SD…. Hah….. ooo’…oowwww…. Toweeng toweeng.. ngeri amat, betapa jadulnya kita bila dah menyangkut masalah pemahaman keagamaan, ya pertama gw sadari ini ya ngeri sekali karena gw tau apa yang diajarkan untuk anak SD ya pastinya hanya sebatas kemampuan pemahaman anak kecil saja, nah buat yang dah dewasa kaya kita gimana… ya pemahamannya harus diupdate dooong. Yang diajarkan oleh guru-guru kita dulu hanya sebatas pondasi, sangat baik, tapi ya namanya pondasi ga bisa dibuat berteduh atau berlindung dari panas dan hujan, kita harus mendirikan tiang, membangun dinding dan memasang atap pemahaman untuk diri kita sendiri.
Berangkat dari pemahaman itu, gw mulai sibuk deh tanya kiri kanan depan belakang, nyari-nyari buku-buku bacaan keagamaan, browsing internet, download segala macem tetek bengek masalah ketuhanan, baca ini baca itu akhirnya dapat suatu pengertian bahwa untuk mencari tuhan dibutuhkan seorang guru atau pembimbing yang mumpuni. Seorang guru yang sanggup memimpin dirinya sendiri hingga dapat mengajarkan cara membimbing diri kita sendiri. Menjadi khalifah dalam dirinya sendiri, dapat mengatur nafsu-nafsu dalam dirinya sesuai pada takarannya. Dapat benar-benar mewujudkan kehambaannya kepada tuhan dengan selayaknya.
Trus apa hubungannya menjadi sufi dan kebutuhan kita akan ketuhanan? Ya erat banget dong, sufi menempatkan tuhan pada porsi maksimal yang bisa dilakukan manusia. Bahkan sufi-sufi jadul benar-benar meninggalkan duniaan hanya agar bisa bersama tuhannya, wedeeeh manteb sekali pencariannya. Ya dulu begitu bingungnya gw menilai mereka ini, bagaimana bisa mereka meninggalkan keduniaan yang begitu jelas menawarkan kesenangan didepan mata dan memilih akhirat yang bagi gw dulu belum jelas juntrungannya? Ya ialah pasti lo juga gitu kan, akhirat belum tentu ada, lah kita belum pernah ngeliat akhirat kaya gimana ya kan, masa kita begitu mudahnya percaya ama yang kita belum alami. Udah deh stop pura – pura beriman kita jujur aja, suliiitttt buat kita yakin ama tuhan, lah wong kalo sholat atau doa aja kita bingung diterima apa ng’ga, ya kan, ya Insyaallah itu paling banter yang bisa kita katakan, ya itu satu – satu jurus andalan. Trus emangnya kalo sufi gimana? Gitukan pertanyaannya, yang harus dicatet adalah bahwa sufi itu orang biasa yang punya nafsu dan porsi keinginan yang sama persis dengan kita, sufi juga bukan orang yang bodoh dan sembrono, sufi besar didominasi oleh orang – orang pandai dengan pemahaman keagamaan yang dalam, mereka sudah jelas bukan orang bodoh, mereka orang – orang terbaik dijamannya. Bila para sufi itu pintar, lalu tanya diri kita sendiri, apa kita lebih pintar dari mereka? Bagaimana mereka bisa meyakini sesuatu yang ga bisa (belum) kita pahami? Bagaimana mereka bisa begitu yakin, kenapa mereka mau menukar kenikmatan dunia ini dengan sesuatu yang menurut kita belum pasti? Mereka pasti mendapatkan kebahagiaan yang lebih dari sekedar kenikmatan duniawi. Itu pasti.
Sampai disini ada yang kurang jelas anak – anak? Bisa kita lanjutkan? He he he santai dulu, relaaaax, jangan nafsu gitu ah. Tuhan ga suka sama orang yang berlebihan.  lanjut ya…
Nah, bila kita sudah sampai pada pemahaman ini, akan mudah bagi kita untuk bisa mengarahkan diri kita pada sesi pemahaman berikutnya yaitu kita juga bisa menjadi sufi atau yang lebih jelasnya lagi kalo kita mau, kita juga bisa ko jadi orang suci. Haaaahhhh…!!!! Orang suci…? Ha ha ha ha ha kenapa ya kalo denger orang suci pikiran kita langsung nge-hang kaya pembicaraan ketuhanan diatas? Udah deh ga usah dibahas lagi ya, gini loh sebenernya kita bisa menjadi seperti mereka bila kita mau, ya modalnya mau dulu. Atau bahasa sulitnya niat, udah deh ga usah pake bahasa niat, kata – kata niat terlalu banyak mengandung parameter, nanti yang ada malah rejecting lagi. Ya kan, karena keseringan ngedenger suatu bahasa dan kita ga memperdulikan ( melakukan bahasa itu dengan benar ) pikiran kita akan mengedukasi bawah sadar kita untuk meng-ignore kata tersebut. Disini gw mencoba mengkode ulang bahasa pemrograman pikiran kita, supaya bisa langsung masuk kedalam pikiran bawah sadar dan mem-by pass ke perasaan kita. Ya, terus terang gw mencoba meng-hack pikiran pembaca supaya bisa tersesat ke jalan yang benar..  he he he.
Ok, mulailah menginginkan suatu perubahan dalam kehidupan kita ini, mulailah dengan kerinduan pada masa – masa kecil dimana semuanya nampak begitu sederhana, inginkan dulu ketenangan itu… inginkan rasa bahagia atas rahmat tuhan yang begitu berlimpah yang telah kita nikmati selama ini, bahwa kita telah diberi hidup dan masih tetap hidup sampai saat ini. Yakini dengan pasti bahwa kita bisa saja mati saat ini, satu jam lagi atau besok pagi kita tidak bangun lagi dari tidur, ini sangat mungkin sekali. Dengan begitu kita bisa benar – benar berterimakasih atas nikmat hidup ini. Itu saja. Haaahhh itu saja, ah gw dah sering ko begitu tapi tetap aja gw masih sering berbuat dosa, gimana bisa jadi orang suci, masa begitu doang.  sabar doong, masa sehari kita berterimakasih dah langsung mau masuk sorga, jiiiiiaaaah.., lugu banget sih… kita perlu senantiasa, selalu, setiap saat mengingat rasa syukur itu, setiap sesuatu yang terjadi pada kita adalah nikmat. Ga peduli apapun itu pasti dibalik semua peristiwa yang terjadi ama kita pasti ada hikmah yang bisa kita petik, garansi. Nah yang ini aga sulit. Tapi bisa, dan istilah mendadak alim yang mungkin akan kita dengar dari sekeliling akan lambat laun menghilang seiring berjalannya waktu, rumus mudahnya seperti ini. Perasaan baik menghasilkan pemikiran yang baik, pemikiran yang baik menghasilkan tindakan yang baik, tindakan yang baik menghasilkan kebiasaan yang baik, kebiasaan yang baik akan menghasilkan karakter yang baik. ( perasaan – pikiran – tindakan – kebiasaan – karakter ).
Nah, coba kita praktekan dalam kehidupan keseharian, mulai kita coba setiap bangun pagi kita syukuri bahwa kita masih hidup sampai hari ini, lalu layaknya sufi atau orang suci lainnya tancapkan rasa syukur itu dalam – dalam, well, kita dah punya mudal awal tuk jadi orang suci, mudahkan, coba kita deskripsikan polanya akan menjadi seperti ini, (perasaan orang suci - pikiran orang suci – tindakan orang suci – kebiasaan orang suci – karakter orang suci )  selanjutnya ikuti saja mood ‘orang suci’ itu dalam sehari, besok ulangi lagi, sampai disini kita dah berhasil mengedukasi ulang pikiran kita bahwa kita juga bisa menjadi ‘orang suci’ dan ternyata tidak terlalu sulit untuk melakukannya, yakinlah siapa yang berjalan kearah tuhan maka akan dibukakan pintu pintu rahmat dan kemudahan. Siapa yang berjalan kearahKu maka Aku akan menyambutnya dengan berlari, begitu maha penyayangnya tuhan kita. Terima kasih ya Allah.
Sampai disini tulisan saya ini, pasti banyak kekurangan disana – sini. Saya mohon maaf bila ada kekeliruan atau kecerobohan saya menggunakan kata – kata, saya cuma orang awam yang berusaha berbagi apa yang saya rasakan. Semoga bermanfaat ya, wa billahi taufiq wal hidayah wasalammualaikum warohmatullohi wabarokatuh…. mantaaaaap… 


Ranu Mulyana
ranu_the_ocean@yahoo.com

RISALAH HATI

RISALAH HATI

Kasih, dengarkanlah aku, dengarlah hatimu bicara…

Ya kasihku, aku adalah hatimu, aku selalu berbicara, adakah kau dengar suaraku? Adakah kau dengar suaraku dibising keramaian pikiranmu? Bila saja kau mau, akan kuceritakan semua yang ingin kau ketahui, akan kuajari kamu semua yang ingin kau mengerti, akulah yang selama ini kau cari. Aku selalu disini, ada untukmu, tak usahlah kau cari-cari aku kesana kemari. Semua yang kau pelajari dari buku dan guru-gurumu hakikatnya adalah untuk mencari aku, lalu kenapa kau masih berdiam disitu dikeriuhan dan kesibukan mencari aku. Aku disini, dihatimu.

Kasih, aku tau betapa pandainya dirimu, aku tau berapa banyak waktu yang telah kau habiskan untuk belajar, aku tau berapa banyak yang telah kau persembahkan atas nama ilmu pengetahuan, bila saja kau mau mendengar aku tak perlulah kau lakukan pekerjaan sia-sia itu. Ya, tak perlu. Apakah aku terdengar begitu sombong bagimu yang telah banyak belajar tentang kerendahan hati? Kasih, akulah sang hati, bagaimana bisa kau mengajarkan aku tentang kerendahanku? Akulah hatimu, marilah kita bicara.

Kasih, bila telah kau dengar suaraku, ikutilah aku, akan kubawa kau ketempat dimana bunga-bunga warna-warni bermekaran sepanjang waktu menebarkan wewangian yang tiada henti, dimana langitnya dipenuhi pelangi silih berganti, dimana anginnya behembusan semilir sejuk membelai lembut sanubari, dimana lagu-lagu yang mengalun terdengar laksana selaksa doa dari seluruh penjuru dunia, dimana kenikmatan makanannya seperti hidangan mewah yang dihadapkan pada yatim yang kelaparan. Ayo dengarkanlah aku…

Kasih aku mengerti betapa sulit kau kau dengar aku, betapa sulitnya kau meyakini aku, aku tau betapa gemerlap dunia ini menyilaukan matamu, aku tau betapa kebisingan sekelilingmu ini memekakkan telingamu, aku tau itu sayang, tak mudah bagimu untuk sekedar menoleh sejenak kearahku, aku tau. Aku tau begitu kuatnya keinginan-keinginan dan harapan semu itu membelenggumu, aku tau betapa tak berdayanya dirimu saat dibumihanguskan oleh amarah, aku tau betapa pasrahnya dirimu dalam rengkuhan nafsu atas nama cinta, aku tau betapa naifnya kamu berusaha berlaku tulus dengan hasrat menggebu menggelayuti pikiranmu, aku tau deritamu, aku mengerti kepedihan siksa keterpisahanmu dariku, Kasih aku tau semua itu sayang, oh sayangku, berhentilah menganiaya dirimu, disitulah keakuan dan kesombonganmu membentangkan jarak antara kita, disanalah ujian cintamu berada, disitulah bukti agar kau layak menjadi kekasihku.

Kasih, semua yang kau pelajari itu akan selamanya hanya menjadi pengisi kepala dan penghias bibirmu sampai saat kita bicara, sampai saat kau dengar suaraku dan kau menyangka bahwa suaraku adalah suaramu.

Ranu Mulyana