Selamat datang, my brother and sista rohimakumulloh..

Cari Blog Ini

Sabtu, 22 Mei 2010


TEPI MALAM
Disini,

Saat dingin mendekap para penidur yang terlena dalam mimpi

Saat para pemuja nafsu pulang dari tempat penyiksaan hati

Saat para pendosa bermunajat memohon ampunan

Saat para pendoa kerap memaksa tuhan untuk mengabulkan keinginan


Disini,

Saat haru begitu mudah menyeruak hati

Saat kebohongan yang tak berdaya mengumpati

Saat airmata luruh membasahi

Saat yang tepat mengingat mati


Disini,

Saat suara suara gaduh itu tak terdengar lagi

Saat detak jantung terdengar seperti derap berjuta kaki

Saat suara hati kadang terdengar menghakimi

Saat semuanya menjadi tak biasa lagi


Disini,

Saatnya melihat pelangi dalam hati

Saat cahayanya menerangi

Saat kemurahannya begitu membumi

Saat kerinduan begitu merajai



Ranu Mulyana

Pilihan Hidup VS Tujuan Hidup


Pilihan Hidup VS Tujuan Hidup

“Apakah tujuan hidupmu?” Maka sering kali jawaban yang keluar adalah sebuah pilihan hidup, lalu apakah bedanya tujuan hidup dan pilihan hidup?

Pilihan hidup VS Tujuan Hidup, hmmm… ada semacam lost pemahaman bila kita dihadapkan dengan pertanyaan seperti itu. Ya, kita kerap kehilangan pengertian bila menyangkut pemahaman kehidupan, entah darimana tumbuhnya pengertian bahwa hidup ini tidak perlu dipahami, hidup biarkan saja berjalan apa adanya, goin with the flow… sebenernya saya setuju dengan istilah seperti itu tapi masalahnya adalah kadang kita benar – benar hanyut dalam hidup ini, kita menjalani hari demi hari berharap ada suatu perubahan dramatis yang langsung mengubah hidup kita. Keep dream on pal.., hidup tak akan berubah jika bukan kita sendiri yang merubahnya.
Pilihan hidup adalah sebuah keputusan bahwa kita memilih menjalani hidup ini seperti apa, kita bisa memilih menjadi artis, atlet, pengusaha, pedagang, atau bahkan penganggur, loh ko penganggur? Siapa yang mau nganggur? Banyak. ‘Ga bisa begitu dong, saya dah berusaha mencari kerja kesana kesini tapi belum dapat pekerjaan’. bantah teman saya yang penganggur. Well, rupanya teman saya ini lupa kalo saya juga dulu pernah nganggur  saya juga tau bagaimana rasanya ada pada posisi itu, kalo saya analisa dulu saya menganggur karena saya mencari pekerjaan yang saya inginkannya, yang mungkin diinginkan oleh ribuan bahkan jutaan orang lainnya, padahal banyak pekerjaan yang mungkin agak jarang peminatnya, bahkan tanpa modal sedikitpun, makelar, biro iklan, jadi pak ogah, sales, penulis, dll. Memang memilih profesi – profesi seperti itu membutuhkan perjuangan yang tidak mudah, tapi jelas itu sebuah profesi yang terhormat, menghasilkan dan bukan penganggur. Jadi waktu saya menganggur dulu juga merupakan sebuah pilihan hidup. Sukses itu adalah kita mau melakukan sesuatu dan kita bisa melakukannya, sama juga dengan kita tidak mau melakukan sesuatu dan kita tidak melakukannya. Itu juga sebuah kesuksesan.  lalu kalo tujuan hidup itu apa?
Tujuan hidup adalah pilihan akhir dari hidup kita ini mau kemana? Maksudnya gimana? Tuh, pasti keluar pertanyaan kan,  Maksudnya begini, pertama saya mau tanya apakah anda percaya kehidupan setelah mati? Bila anda tidak percaya anda dipersilahkan untuk berhenti sampai disini, tapi bila anda percaya bahwa ada kehidupan setelah mati bahwa kita tak hanya sekedar hidup secara kebetulan dan mati.
Ya, sebagai umat beragama sedari dini kita telah diajarkan bahwa tujuan hidup kita adalah untuk beribadah, serius nih? Apa bener? Ya benar dong! He he he. Menurut analisa penulis yang belum tentu benar, pelajaran yang semenjak dini kita terima itu juga belum tepat, haaaah belum tepat?, maksudnya belum tepat gimana? ya belum tepat. Bila kita mengisi hidup kita dengan beribadah maka itu adalah pilihan menjalani hidup ini. Nah terus tujuan hidup kita apa? Ya tujuan hidup kita adalah bisa kembali kepadaNya, dalam islam disebutkan innalillahi wa inailaihi rojiun, asal dari Allah akan kembali ke Allah. Begitu kan? Begitu ya? Begitukah? Yang jadi catatan adalah apakah kita bisa kembali ‘pulang’? dengan benar dan selamat? Ya insyaallah kalo kita berusaha sepenuh hati dan khusuk pasti bisa,.. tapi seperti kebanyakan orang kadang kita melupakan syarat mutlaknya itu tadi, ya? Apa iya? Ya begitu deh.
Syarat mutlaknya adalah sepenuh hati dan khusuk, hmmm yang dimaksud sepenuh hati dan khusuk ini pastinya menuntut pemahaman lebih lanjut (insyaallah next blog ya). Menurut standard pemahaman saya yang awam ini, bila kita mati kita akan dikubur, lalu tunggu sampe kiamat, kita dibangkitkan lagi, peradilan, terus dijudgement kita masuk sorga atawa neraka. Sampai disini saja pemahaman saya. Lalu apanya yang pulang ke Allah?
Beberapa waktu lalu saya baca posting seorang teman di Facebook, bunyinya begini: “Berhentilah menganggap tubuhmu sebagai dirimu”. Trus ada yang kasih comment begini, “Lah, kalo bukan tubuh ini terus tubuh yang mana?” disini jelas ada perbedaan pemahaman mengenai tubuh, antara teman saya yang satu dan lainnya.
Bila kita mau berpikir sejenak, ya sejenak aja meluangkan waktu siapa diri ini? Tentunya akan muncul banyak sekali pertanyaan – pertanyaan yang sangat mendasar pada diri ini, bahkan hadist qudsi yang sangat populer menyebutkan: “siapa yang mengenal dirinya akan mengenal tuhannya”. Sungguh suatu PR yang sangat pelik untuk sekedar kita dengarkan. Perihal jati diri kita yang sesungguhnya, pastinya bukan Cuma sekedar tubuh atau jasad ini saja. Buat referensi saya pernah browsing mengenai ‘tubuh’ manusia dan yang saya dapat sungguh banyak, dari mulai ilmu klenik perdukunan, meraga sukma, quantum, sampai pelajaran OBE (Out Body Experience/pengalaman keluar dari tubuh) disebuah universitas di Amrik. Ya, sampai segitunya mereka berusaha menjawab pertanyaan klise yaitu jati diri manusia, dan kita yang nota bene orang yang percaya akan kehidupan setelah mati kadang diam saja dan menelan bulat-bulat ajaran yang kita percayai tanpa melakukan sebuah usaha-usaha apapun untuk menjawab pertanyaan ini. Lalu saya tarik kesimpulan bahwa semua hal yang diketahui manusia merujuk bahwa manusia memiliki tubuh kasar (jasad) dan tubuh halus (ruh). Nah, ruh inilah yang pasti akan kembali kepada Tuhannya. Yang jadi perhatian saya adalah bagaimana ruh bisa kembali?
Banyak posting dari berbagai sumber menyebutkan atau menceritakan pengalaman ‘keluar’ dari tubuh. Wuiiih, Jujur, sebenarnya saya agak ngeri juga membacanya, saya sangat normal, mati merupakan momok terbesar dalam hidup saya, saking takutnya sampai saya putuskan bahwa mati harus saya pelajari dan persiapkan. Siapa seh yang ga ngeri membayangkan kematian. Tapi semua yang hidup pasti mati, kecuali yang maha hidup. Suka atau tidak, berani atau takut, mati adalah sesuatu yang pasti, kita bisa pura-pura ga peduli, pura-pura lupa tapi mati harus kita alami. Sorry kalo dari tadi tulisan saya jadi membahas kematian karena memang tujuan hidup manusia yang sebenarnya ada pada saat kita sudah mati, ya kan?
Well, bila sudah dipahami perbedaan pilihan hidup dan tujuan hidup mari kita selaraskan pilihan hidup kita untuk mencapai tujuan hidup kita. Jadilah man in action dalam pencapaian tujuan hidup kita. Selamat berjuang ya pembaca sekalian, bukanlah hal yang mudah untuk kita sekedar survive sampai tujuan, begitu panjang jalan yang harus ditempuh, begitu banyak tanjakan, lubang dan tikungan. Yang perlu diperhatikan dalam suatu perjalanan adalah selalu mematuhi aturan dan rambu-rambu yang ada dan ingatlah selalu gunakan akal sehat dan hati nurani untuk memahami rambu-rambu tersebut sebagai contoh bila dalam suatu rambu tertulis: ‘minimal speed 40km/jam’ maka turutilah ketentuan itu, tapi kalo macet ya.., harus flexible dong jangan ngotot memaksakan harus speed sesuai rambu  ya toh, jangan terlalu kaku memahami sebuah peraturan, jalani saja sesuai situasi dan kondisi yang wajar. Insyaallah akan sampai tujuan dengan selamat. Amiin.



Ranu Mulyana
ranu_the_ocean@yahoo.com
http://ranu-mulyana.blogspot.com

Minggu, 16 Mei 2010

HARE GENE JADI SUFI…?


HARE GENE JADI SUFI…?
Ha ha ha…….
Pertanyaan ini yang pertama kali terlontar dalam benak gw beberapa waktu yang lalu, ya memang pertanyaan seperti ini manusiawi banget, apalagi buat orang yang awam seperti gw, “hare gene jadi sufi? Wuiih yang kebayang orang bejenggot pake jubah, jidatnya yang pada item gitu deh kebanyakan sujud, kebanyakan orang awam akan menilai seperti itu, Judge things by they colour, so naïf”. 
Mau setuju atau tidak, mau suka atau tidak suka kebutuhan akan tuhan akan selalu ada, apalagi dijaman yang serba ajaib n serba semerawut ini, yang bener jadi salah yang salah jadi bener yang bingung makin linglung yang pusing makin ruwet yang senang makin ngawur,… wah kacau deh, ga percaya? Coba deh, dalam sehari, ya sehari aja kita coba jadi orang bener,.. busyeeeeet, kita akan langsung jadi alien. Karena dunianya dah ga beres, saat kita beres kita jadi keliatan super aneh. What the freak world!!!!
Kita kembali lagi ke masalah kebutuhan basic manusia akan tuhan, dari jaman iblik-iblik dah banyak agama yang mengajarkan tentang kebutuhan dasar ini, gw yakin sampe hari ini pun semua orang masih setuju kalo gw bilang kita butuh tuhan. Tapi…. Tapi…tapi.. nah masih banyak tapi, tapi, tapi, tapi itu, kenapa? Ya karena dah tumbuh semacam penyakit bahwa kalo kita bicara soal ketuhanan mendadak kita jadi kehilangan mood n jadi BT, karena kita kerap mendapat doktrin atau input yang kurang tepat, ya dikebanyakan orang saat bicara masalah ketuhanan yang terlintas dalam pikirannya adalah ga boleh ini ga boleh itu, harus begini harus begitu seakan tuhan menjelma menjadi sosok yang merampas kebahagiaan mereka. Tuhan dalam skenario pikirannya hanya sebagai pengabul doa, tuhan baik bila mengabulkan keinginannya, tuhan jahat bila tidak mengabulkan, ini membuat semacam kontradiksi halus didalam pikiran kita, ga heran kalo dah bicara masalah tuhan kita jadi geraaaaaaaah. Dan yang lebih tragis lagi kita malu atau bahkan takut dicap ga beragama bila mengakuinya. Dalam pikiran kita kadang timbul pertanyaan apa bener tuhan itu ada? Padahal dalam hati yang paling daleeeeeeem banget kita tau kita butuh tuhan. Akhirnya jadilah kita pembohong hati nurani, hati kita dibelenggu kita jarang lagi mendengarkan suara hati, kita selalu bermain dalam area pikiran dan logika, alamaaaak… kita menggunakan akal untuk menjangkau tuhan yang jelas-jelas tak dapat tersentuh akal, bahkan terlintas dalam pikiranpun tidak. Dalam prinsip pikiran, sesuatu itu ada bila mangamini salah satu 5 konsep dasar kebendaan, Sesuatu bisa dikatakan ada bila dapat disentuh, dilihat, dirasa, dicium atau didengar. Pikiran kita sudah terpolakan seperti itu, jadi saat keyword tuhan diloginkan kedalam pikiran yang muncul adalah announ object! Atau bad command error!.  kalo dah begini ampuuuun deh. Trus gimana dong kita bisa meyakini keberadaan tuhan, ya dengan apalagi kalo ga dengan hati dan perasaan.
Nah, sekarang timbul lagi pertanyaan dalam kepala gw, loh ko pertanyaan melulu seh…? Ya memang begitu banyak pertanyaan yang keluar dari pikiran kita, pertanyaan klise masalah diri ini. Siapa kita? Ngapain kita hidup? Mau kemana setelah hidup? Well, selama ini kita dijejali kata orang tua, kata guru ngaji, kata lingkungan bahwa kita itu hamba tuhan, hidup untuk beribadah, setelah mati kita mudah-mudahan masuk sorga. Ajaran yang Perfect. Tapi, ada tapinya nih, anehnya kita semakin bingung dengan yang kita pahami. Ajaran hidup yang seharusnya menjadi pedoman dan penunjuk jalan dalam kehidupan ini ko sepertinya hanya tinggal tulisan dan ingatan didalam kepala kita, hidup kita kerap dilanda berbagai persoalan yang datang tak kenal waktu, Apa yang salah ya? Yang jadi permasalahan adalah kita menelan bulat-bulat apa yang diajarkan oleh guru – guru kita, coba inget – inget kapan terakhir kita diajarkan tentang agama kita itu… loading…. Loading… loading… kenapa aga sulit mengingatnya? Ya karena dah lama banget, waktu kita masih SD kali. Artinya pemahaman keagamaan yang menjadi dasar kehidupan kita adalah pemahaman anak SD…. Hah….. ooo’…oowwww…. Toweeng toweeng.. ngeri amat, betapa jadulnya kita bila dah menyangkut masalah pemahaman keagamaan, ya pertama gw sadari ini ya ngeri sekali karena gw tau apa yang diajarkan untuk anak SD ya pastinya hanya sebatas kemampuan pemahaman anak kecil saja, nah buat yang dah dewasa kaya kita gimana… ya pemahamannya harus diupdate dooong. Yang diajarkan oleh guru-guru kita dulu hanya sebatas pondasi, sangat baik, tapi ya namanya pondasi ga bisa dibuat berteduh atau berlindung dari panas dan hujan, kita harus mendirikan tiang, membangun dinding dan memasang atap pemahaman untuk diri kita sendiri.
Berangkat dari pemahaman itu, gw mulai sibuk deh tanya kiri kanan depan belakang, nyari-nyari buku-buku bacaan keagamaan, browsing internet, download segala macem tetek bengek masalah ketuhanan, baca ini baca itu akhirnya dapat suatu pengertian bahwa untuk mencari tuhan dibutuhkan seorang guru atau pembimbing yang mumpuni. Seorang guru yang sanggup memimpin dirinya sendiri hingga dapat mengajarkan cara membimbing diri kita sendiri. Menjadi khalifah dalam dirinya sendiri, dapat mengatur nafsu-nafsu dalam dirinya sesuai pada takarannya. Dapat benar-benar mewujudkan kehambaannya kepada tuhan dengan selayaknya.
Trus apa hubungannya menjadi sufi dan kebutuhan kita akan ketuhanan? Ya erat banget dong, sufi menempatkan tuhan pada porsi maksimal yang bisa dilakukan manusia. Bahkan sufi-sufi jadul benar-benar meninggalkan duniaan hanya agar bisa bersama tuhannya, wedeeeh manteb sekali pencariannya. Ya dulu begitu bingungnya gw menilai mereka ini, bagaimana bisa mereka meninggalkan keduniaan yang begitu jelas menawarkan kesenangan didepan mata dan memilih akhirat yang bagi gw dulu belum jelas juntrungannya? Ya ialah pasti lo juga gitu kan, akhirat belum tentu ada, lah kita belum pernah ngeliat akhirat kaya gimana ya kan, masa kita begitu mudahnya percaya ama yang kita belum alami. Udah deh stop pura – pura beriman kita jujur aja, suliiitttt buat kita yakin ama tuhan, lah wong kalo sholat atau doa aja kita bingung diterima apa ng’ga, ya kan, ya Insyaallah itu paling banter yang bisa kita katakan, ya itu satu – satu jurus andalan. Trus emangnya kalo sufi gimana? Gitukan pertanyaannya, yang harus dicatet adalah bahwa sufi itu orang biasa yang punya nafsu dan porsi keinginan yang sama persis dengan kita, sufi juga bukan orang yang bodoh dan sembrono, sufi besar didominasi oleh orang – orang pandai dengan pemahaman keagamaan yang dalam, mereka sudah jelas bukan orang bodoh, mereka orang – orang terbaik dijamannya. Bila para sufi itu pintar, lalu tanya diri kita sendiri, apa kita lebih pintar dari mereka? Bagaimana mereka bisa meyakini sesuatu yang ga bisa (belum) kita pahami? Bagaimana mereka bisa begitu yakin, kenapa mereka mau menukar kenikmatan dunia ini dengan sesuatu yang menurut kita belum pasti? Mereka pasti mendapatkan kebahagiaan yang lebih dari sekedar kenikmatan duniawi. Itu pasti.
Sampai disini ada yang kurang jelas anak – anak? Bisa kita lanjutkan? He he he santai dulu, relaaaax, jangan nafsu gitu ah. Tuhan ga suka sama orang yang berlebihan.  lanjut ya…
Nah, bila kita sudah sampai pada pemahaman ini, akan mudah bagi kita untuk bisa mengarahkan diri kita pada sesi pemahaman berikutnya yaitu kita juga bisa menjadi sufi atau yang lebih jelasnya lagi kalo kita mau, kita juga bisa ko jadi orang suci. Haaaahhhh…!!!! Orang suci…? Ha ha ha ha ha kenapa ya kalo denger orang suci pikiran kita langsung nge-hang kaya pembicaraan ketuhanan diatas? Udah deh ga usah dibahas lagi ya, gini loh sebenernya kita bisa menjadi seperti mereka bila kita mau, ya modalnya mau dulu. Atau bahasa sulitnya niat, udah deh ga usah pake bahasa niat, kata – kata niat terlalu banyak mengandung parameter, nanti yang ada malah rejecting lagi. Ya kan, karena keseringan ngedenger suatu bahasa dan kita ga memperdulikan ( melakukan bahasa itu dengan benar ) pikiran kita akan mengedukasi bawah sadar kita untuk meng-ignore kata tersebut. Disini gw mencoba mengkode ulang bahasa pemrograman pikiran kita, supaya bisa langsung masuk kedalam pikiran bawah sadar dan mem-by pass ke perasaan kita. Ya, terus terang gw mencoba meng-hack pikiran pembaca supaya bisa tersesat ke jalan yang benar..  he he he.
Ok, mulailah menginginkan suatu perubahan dalam kehidupan kita ini, mulailah dengan kerinduan pada masa – masa kecil dimana semuanya nampak begitu sederhana, inginkan dulu ketenangan itu… inginkan rasa bahagia atas rahmat tuhan yang begitu berlimpah yang telah kita nikmati selama ini, bahwa kita telah diberi hidup dan masih tetap hidup sampai saat ini. Yakini dengan pasti bahwa kita bisa saja mati saat ini, satu jam lagi atau besok pagi kita tidak bangun lagi dari tidur, ini sangat mungkin sekali. Dengan begitu kita bisa benar – benar berterimakasih atas nikmat hidup ini. Itu saja. Haaahhh itu saja, ah gw dah sering ko begitu tapi tetap aja gw masih sering berbuat dosa, gimana bisa jadi orang suci, masa begitu doang.  sabar doong, masa sehari kita berterimakasih dah langsung mau masuk sorga, jiiiiiaaaah.., lugu banget sih… kita perlu senantiasa, selalu, setiap saat mengingat rasa syukur itu, setiap sesuatu yang terjadi pada kita adalah nikmat. Ga peduli apapun itu pasti dibalik semua peristiwa yang terjadi ama kita pasti ada hikmah yang bisa kita petik, garansi. Nah yang ini aga sulit. Tapi bisa, dan istilah mendadak alim yang mungkin akan kita dengar dari sekeliling akan lambat laun menghilang seiring berjalannya waktu, rumus mudahnya seperti ini. Perasaan baik menghasilkan pemikiran yang baik, pemikiran yang baik menghasilkan tindakan yang baik, tindakan yang baik menghasilkan kebiasaan yang baik, kebiasaan yang baik akan menghasilkan karakter yang baik. ( perasaan – pikiran – tindakan – kebiasaan – karakter ).
Nah, coba kita praktekan dalam kehidupan keseharian, mulai kita coba setiap bangun pagi kita syukuri bahwa kita masih hidup sampai hari ini, lalu layaknya sufi atau orang suci lainnya tancapkan rasa syukur itu dalam – dalam, well, kita dah punya mudal awal tuk jadi orang suci, mudahkan, coba kita deskripsikan polanya akan menjadi seperti ini, (perasaan orang suci - pikiran orang suci – tindakan orang suci – kebiasaan orang suci – karakter orang suci )  selanjutnya ikuti saja mood ‘orang suci’ itu dalam sehari, besok ulangi lagi, sampai disini kita dah berhasil mengedukasi ulang pikiran kita bahwa kita juga bisa menjadi ‘orang suci’ dan ternyata tidak terlalu sulit untuk melakukannya, yakinlah siapa yang berjalan kearah tuhan maka akan dibukakan pintu pintu rahmat dan kemudahan. Siapa yang berjalan kearahKu maka Aku akan menyambutnya dengan berlari, begitu maha penyayangnya tuhan kita. Terima kasih ya Allah.
Sampai disini tulisan saya ini, pasti banyak kekurangan disana – sini. Saya mohon maaf bila ada kekeliruan atau kecerobohan saya menggunakan kata – kata, saya cuma orang awam yang berusaha berbagi apa yang saya rasakan. Semoga bermanfaat ya, wa billahi taufiq wal hidayah wasalammualaikum warohmatullohi wabarokatuh…. mantaaaaap… 


Ranu Mulyana
ranu_the_ocean@yahoo.com

RISALAH HATI

RISALAH HATI

Kasih, dengarkanlah aku, dengarlah hatimu bicara…

Ya kasihku, aku adalah hatimu, aku selalu berbicara, adakah kau dengar suaraku? Adakah kau dengar suaraku dibising keramaian pikiranmu? Bila saja kau mau, akan kuceritakan semua yang ingin kau ketahui, akan kuajari kamu semua yang ingin kau mengerti, akulah yang selama ini kau cari. Aku selalu disini, ada untukmu, tak usahlah kau cari-cari aku kesana kemari. Semua yang kau pelajari dari buku dan guru-gurumu hakikatnya adalah untuk mencari aku, lalu kenapa kau masih berdiam disitu dikeriuhan dan kesibukan mencari aku. Aku disini, dihatimu.

Kasih, aku tau betapa pandainya dirimu, aku tau berapa banyak waktu yang telah kau habiskan untuk belajar, aku tau berapa banyak yang telah kau persembahkan atas nama ilmu pengetahuan, bila saja kau mau mendengar aku tak perlulah kau lakukan pekerjaan sia-sia itu. Ya, tak perlu. Apakah aku terdengar begitu sombong bagimu yang telah banyak belajar tentang kerendahan hati? Kasih, akulah sang hati, bagaimana bisa kau mengajarkan aku tentang kerendahanku? Akulah hatimu, marilah kita bicara.

Kasih, bila telah kau dengar suaraku, ikutilah aku, akan kubawa kau ketempat dimana bunga-bunga warna-warni bermekaran sepanjang waktu menebarkan wewangian yang tiada henti, dimana langitnya dipenuhi pelangi silih berganti, dimana anginnya behembusan semilir sejuk membelai lembut sanubari, dimana lagu-lagu yang mengalun terdengar laksana selaksa doa dari seluruh penjuru dunia, dimana kenikmatan makanannya seperti hidangan mewah yang dihadapkan pada yatim yang kelaparan. Ayo dengarkanlah aku…

Kasih aku mengerti betapa sulit kau kau dengar aku, betapa sulitnya kau meyakini aku, aku tau betapa gemerlap dunia ini menyilaukan matamu, aku tau betapa kebisingan sekelilingmu ini memekakkan telingamu, aku tau itu sayang, tak mudah bagimu untuk sekedar menoleh sejenak kearahku, aku tau. Aku tau begitu kuatnya keinginan-keinginan dan harapan semu itu membelenggumu, aku tau betapa tak berdayanya dirimu saat dibumihanguskan oleh amarah, aku tau betapa pasrahnya dirimu dalam rengkuhan nafsu atas nama cinta, aku tau betapa naifnya kamu berusaha berlaku tulus dengan hasrat menggebu menggelayuti pikiranmu, aku tau deritamu, aku mengerti kepedihan siksa keterpisahanmu dariku, Kasih aku tau semua itu sayang, oh sayangku, berhentilah menganiaya dirimu, disitulah keakuan dan kesombonganmu membentangkan jarak antara kita, disanalah ujian cintamu berada, disitulah bukti agar kau layak menjadi kekasihku.

Kasih, semua yang kau pelajari itu akan selamanya hanya menjadi pengisi kepala dan penghias bibirmu sampai saat kita bicara, sampai saat kau dengar suaraku dan kau menyangka bahwa suaraku adalah suaramu.

Ranu Mulyana