Selamat datang, my brother and sista rohimakumulloh..

Cari Blog Ini

Sabtu, 22 Mei 2010

Pilihan Hidup VS Tujuan Hidup


Pilihan Hidup VS Tujuan Hidup

“Apakah tujuan hidupmu?” Maka sering kali jawaban yang keluar adalah sebuah pilihan hidup, lalu apakah bedanya tujuan hidup dan pilihan hidup?

Pilihan hidup VS Tujuan Hidup, hmmm… ada semacam lost pemahaman bila kita dihadapkan dengan pertanyaan seperti itu. Ya, kita kerap kehilangan pengertian bila menyangkut pemahaman kehidupan, entah darimana tumbuhnya pengertian bahwa hidup ini tidak perlu dipahami, hidup biarkan saja berjalan apa adanya, goin with the flow… sebenernya saya setuju dengan istilah seperti itu tapi masalahnya adalah kadang kita benar – benar hanyut dalam hidup ini, kita menjalani hari demi hari berharap ada suatu perubahan dramatis yang langsung mengubah hidup kita. Keep dream on pal.., hidup tak akan berubah jika bukan kita sendiri yang merubahnya.
Pilihan hidup adalah sebuah keputusan bahwa kita memilih menjalani hidup ini seperti apa, kita bisa memilih menjadi artis, atlet, pengusaha, pedagang, atau bahkan penganggur, loh ko penganggur? Siapa yang mau nganggur? Banyak. ‘Ga bisa begitu dong, saya dah berusaha mencari kerja kesana kesini tapi belum dapat pekerjaan’. bantah teman saya yang penganggur. Well, rupanya teman saya ini lupa kalo saya juga dulu pernah nganggur  saya juga tau bagaimana rasanya ada pada posisi itu, kalo saya analisa dulu saya menganggur karena saya mencari pekerjaan yang saya inginkannya, yang mungkin diinginkan oleh ribuan bahkan jutaan orang lainnya, padahal banyak pekerjaan yang mungkin agak jarang peminatnya, bahkan tanpa modal sedikitpun, makelar, biro iklan, jadi pak ogah, sales, penulis, dll. Memang memilih profesi – profesi seperti itu membutuhkan perjuangan yang tidak mudah, tapi jelas itu sebuah profesi yang terhormat, menghasilkan dan bukan penganggur. Jadi waktu saya menganggur dulu juga merupakan sebuah pilihan hidup. Sukses itu adalah kita mau melakukan sesuatu dan kita bisa melakukannya, sama juga dengan kita tidak mau melakukan sesuatu dan kita tidak melakukannya. Itu juga sebuah kesuksesan.  lalu kalo tujuan hidup itu apa?
Tujuan hidup adalah pilihan akhir dari hidup kita ini mau kemana? Maksudnya gimana? Tuh, pasti keluar pertanyaan kan,  Maksudnya begini, pertama saya mau tanya apakah anda percaya kehidupan setelah mati? Bila anda tidak percaya anda dipersilahkan untuk berhenti sampai disini, tapi bila anda percaya bahwa ada kehidupan setelah mati bahwa kita tak hanya sekedar hidup secara kebetulan dan mati.
Ya, sebagai umat beragama sedari dini kita telah diajarkan bahwa tujuan hidup kita adalah untuk beribadah, serius nih? Apa bener? Ya benar dong! He he he. Menurut analisa penulis yang belum tentu benar, pelajaran yang semenjak dini kita terima itu juga belum tepat, haaaah belum tepat?, maksudnya belum tepat gimana? ya belum tepat. Bila kita mengisi hidup kita dengan beribadah maka itu adalah pilihan menjalani hidup ini. Nah terus tujuan hidup kita apa? Ya tujuan hidup kita adalah bisa kembali kepadaNya, dalam islam disebutkan innalillahi wa inailaihi rojiun, asal dari Allah akan kembali ke Allah. Begitu kan? Begitu ya? Begitukah? Yang jadi catatan adalah apakah kita bisa kembali ‘pulang’? dengan benar dan selamat? Ya insyaallah kalo kita berusaha sepenuh hati dan khusuk pasti bisa,.. tapi seperti kebanyakan orang kadang kita melupakan syarat mutlaknya itu tadi, ya? Apa iya? Ya begitu deh.
Syarat mutlaknya adalah sepenuh hati dan khusuk, hmmm yang dimaksud sepenuh hati dan khusuk ini pastinya menuntut pemahaman lebih lanjut (insyaallah next blog ya). Menurut standard pemahaman saya yang awam ini, bila kita mati kita akan dikubur, lalu tunggu sampe kiamat, kita dibangkitkan lagi, peradilan, terus dijudgement kita masuk sorga atawa neraka. Sampai disini saja pemahaman saya. Lalu apanya yang pulang ke Allah?
Beberapa waktu lalu saya baca posting seorang teman di Facebook, bunyinya begini: “Berhentilah menganggap tubuhmu sebagai dirimu”. Trus ada yang kasih comment begini, “Lah, kalo bukan tubuh ini terus tubuh yang mana?” disini jelas ada perbedaan pemahaman mengenai tubuh, antara teman saya yang satu dan lainnya.
Bila kita mau berpikir sejenak, ya sejenak aja meluangkan waktu siapa diri ini? Tentunya akan muncul banyak sekali pertanyaan – pertanyaan yang sangat mendasar pada diri ini, bahkan hadist qudsi yang sangat populer menyebutkan: “siapa yang mengenal dirinya akan mengenal tuhannya”. Sungguh suatu PR yang sangat pelik untuk sekedar kita dengarkan. Perihal jati diri kita yang sesungguhnya, pastinya bukan Cuma sekedar tubuh atau jasad ini saja. Buat referensi saya pernah browsing mengenai ‘tubuh’ manusia dan yang saya dapat sungguh banyak, dari mulai ilmu klenik perdukunan, meraga sukma, quantum, sampai pelajaran OBE (Out Body Experience/pengalaman keluar dari tubuh) disebuah universitas di Amrik. Ya, sampai segitunya mereka berusaha menjawab pertanyaan klise yaitu jati diri manusia, dan kita yang nota bene orang yang percaya akan kehidupan setelah mati kadang diam saja dan menelan bulat-bulat ajaran yang kita percayai tanpa melakukan sebuah usaha-usaha apapun untuk menjawab pertanyaan ini. Lalu saya tarik kesimpulan bahwa semua hal yang diketahui manusia merujuk bahwa manusia memiliki tubuh kasar (jasad) dan tubuh halus (ruh). Nah, ruh inilah yang pasti akan kembali kepada Tuhannya. Yang jadi perhatian saya adalah bagaimana ruh bisa kembali?
Banyak posting dari berbagai sumber menyebutkan atau menceritakan pengalaman ‘keluar’ dari tubuh. Wuiiih, Jujur, sebenarnya saya agak ngeri juga membacanya, saya sangat normal, mati merupakan momok terbesar dalam hidup saya, saking takutnya sampai saya putuskan bahwa mati harus saya pelajari dan persiapkan. Siapa seh yang ga ngeri membayangkan kematian. Tapi semua yang hidup pasti mati, kecuali yang maha hidup. Suka atau tidak, berani atau takut, mati adalah sesuatu yang pasti, kita bisa pura-pura ga peduli, pura-pura lupa tapi mati harus kita alami. Sorry kalo dari tadi tulisan saya jadi membahas kematian karena memang tujuan hidup manusia yang sebenarnya ada pada saat kita sudah mati, ya kan?
Well, bila sudah dipahami perbedaan pilihan hidup dan tujuan hidup mari kita selaraskan pilihan hidup kita untuk mencapai tujuan hidup kita. Jadilah man in action dalam pencapaian tujuan hidup kita. Selamat berjuang ya pembaca sekalian, bukanlah hal yang mudah untuk kita sekedar survive sampai tujuan, begitu panjang jalan yang harus ditempuh, begitu banyak tanjakan, lubang dan tikungan. Yang perlu diperhatikan dalam suatu perjalanan adalah selalu mematuhi aturan dan rambu-rambu yang ada dan ingatlah selalu gunakan akal sehat dan hati nurani untuk memahami rambu-rambu tersebut sebagai contoh bila dalam suatu rambu tertulis: ‘minimal speed 40km/jam’ maka turutilah ketentuan itu, tapi kalo macet ya.., harus flexible dong jangan ngotot memaksakan harus speed sesuai rambu  ya toh, jangan terlalu kaku memahami sebuah peraturan, jalani saja sesuai situasi dan kondisi yang wajar. Insyaallah akan sampai tujuan dengan selamat. Amiin.



Ranu Mulyana
ranu_the_ocean@yahoo.com
http://ranu-mulyana.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar