Selamat datang, my brother and sista rohimakumulloh..

Cari Blog Ini

Senin, 12 Juli 2010


KEBEBASAN
Tujuan yang hakiki bukanlah menghindari kebencian untuk mencapai kebahagiaan.Tujuan hakiki adalah mencapai kebebasan. Lepas dan bebas dari perangkap kebencian dan kebahagiaan.

Apa kabar guys?
Apa lagi nih perangkap kebencian dan kebahagiaan?
Bebas dari perangkap kebencian oke deh mudah dipahami, tapi kalo perangkap kebahagiaan ko terdengar agak aneh ya? Apa lagi kalo disebut sebagai sebuah ‘perangkap’  penulis kayanya terlalu berlebihan nih.., :) makin aneh aja lama-lama tulisannya.
Iya beda tapi dari mana juntrungannya anda bisa menyimpulkan bahagia juga bisa membahayakan? Bukankah kebebasan yang justru berbahaya? Baguuuuss….  kenapa ya kalo penulisnya orang kenamaan ga terlalu banyak pertanyaan yang susah-susah haduuuh, asli deh penulis sering ikut entah itu seminar, ceramah, atau bahkan meeting kantor, kalo yang ngomong adalah seorang yang punya ‘taring’ pasti deh yang hadir and dengerin cuma manggut-manggut doang sambil kadang-kadang mikit ga jelas trus ho’oh iya setuju oke deh  walau semua orang tau jangan pernah melihat siapa yang bicara tapi lihat apa yang dibicarakannya, ha ha ha jadi agak curhat neh, well pada kenyataannya kekuatan sebuah figur dan kredibilitas memang terbukti sanggup melemahkan atau bahkan memutar balikan sebuah kenyataan  tapi gpp, penulis senang ko…  aaarrrrgggg…. 
Dear guys, diatas sengaja saya tulis agak nyeneh karena sebenarnya antara kebencian dan kebahagian memiliki potensi yang sama yaitu sama-sama menimbulkan keterikatan.
Keterikatan hati kita pada sesuatu entah itu berbentuk kebahagiaan ataupun kebencian keduanya akan memenjarakan kita dalam bentuk perasaan atau suatu emosi , seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa antara kita dan perasaan adalah suatu hal yang jauh berbeda, perasaan hanya merupakan sebuah alat untuk kita dapat memaknai segala sesuatu yang terjadi pada diri kita ataupun lingkungan sekitar kita, sedangkan diri kita adalah sang pemilik perasaan tersebut., yah seperti sebuah komputer dengan pemilik komputer, beda kan? 
Ya, memang beda udah deh langsung to the point aja, jadi menurut anda baiknya bagaimana? Dear guys, penjelasan saya mungkin akan terdengar agak aneh and konfrontatif menurut pemahaman anda selama ini, tapi sengaja saya lakukan agar kita bisa melihat dan memaknai segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, bila kita sudah bisa melakukannya kita sudah satu langkah menuju kebebasan itu sendiri, bila saja orang ‘dulu’ mau sedikit membuka kepalanya untuk hal-hal yang baru atau mungkin juga hal-hal ajaib yang mungkin tak terpikirkan orang pada masanya, tentu galeileo tidak mati dihukum atas statementnya tentang bumi yang bulat.
Adalah sangat manusia sekali bila kita takut akan suatu perubahan pola pikir apalagi bila bersinggungan dengan norma-norma yang berlaku. Nah disinilah nilai kebebasan itu kadang harus di’haram’kan atas dasar nilai pemahaman yang berlaku disekitar kita, dan dengan keterikatan pada kebahagian yang mungkin sedang kita kecap dalam pemahaman yang kurang benar, kita akan dibelenggu oleh kebahagiaan itu dan tak sanggup dengan bebas memaknai kebenaran yang ada, tapi apakah akan menjadi suatu dosa bila kita ternyata pemahaman kita jauh melampaui standard pemahaman rata-rata? Boleh dong? Sekarang kita memberikan ‘label’ kasihan pada Galeileo, tapi tidak dengan orang pada masanya.  dear guys, we are forward in this generation 
Dah cukup deh penjelasannya, lanjut.
Ntar dulu, belom finish nih , sebagai contoh mudah, dalam suatu meeting dikantor kita, Bos memberikan instruksi yang agak ajaib, dan ga berdasarkan data yang ada. Well, keterikatan yang berlebihan akan kebahagiaan (emosi yang mengatakan bila kita tidak melakukannya maka kita akan kehilangan pekerjaan dan tidak akan bisa beli ini, beli itu, bayar ini, bayar itu) akan membungkam mulut kita untuk mengutarakan yang sebenarnya, bahkan data yang ada harus kita ‘make up’ biar keliatan sesuai dengan instuksi. Bila ini dibiarkan terus menerus, perasaan (baca: pikiran bawah sadar) kita akan mencatat dan membangun image diri kita sebagai ‘yes man’ membohongi nurani sendiri dan ini sangat berbahaya. Saya bukannya menyuruh anda untuk jadi terlalu idealis tapi saya ingin anda bisa terbebas dari tekanan itu. Dengan tidak terikat pada kebahagiaan anda juga tidak akan terikat pada kebencian, padahal bila kita mau berbicara secara jujur, sesuai aturan, baik dengan cara-cara yang baik, bila dia adalah seorang yang keras kepala maka boss kita pada awalnya mungkin akan kurang senang tapi dengan berjalannya waktu, boss anda akan tau kepada siapa dia akan mempercayakan sesuatu yang ‘besar’ .
Ko jadi ngomongin kerjaan sih? yah, karena saya juga seorang pekerja ya pasti contohnya akan sesuai dengan apa yang saya tau.  okay?
Sampe dimana tadi? Oh iya.. jadi gitu guys, apa sih? he he he kadang kalo dah ngalor ngidul ngomong orang jadi lupa akan tujuan yang mau diomongin apa? Eh tadi gw mo ngomong apa ya? Sering kita terjebak dalam posisi itu.  itu karena kita berpindah fokus. Oke deh kita kembali ke settingan awal ya. Tapi sekarang pasti dengan sudut pandang yang lebih baik dong…  kalo ga rugi deh penulis dari tadi ngetik sekedar buat opening. Haaaaaaaaaah opening? Iya opening. Sekarang mulai serius ya. Ga ada lagi tanya jawab. Ini adalah sebuah DOKTRIN!!!!
Tujuan yang hakiki bukanlah menghindari kebencian untuk mencapai kebahagiaan.Tujuan hakiki adalah mencapai kebebasan. Lepas dan bebas dari perangkap kebencian dan kebahagiaan.
Bila kita ingin lepas dan bebas dari perangkap kebencian dan kebahagiaan maka kita harus bisa mengenali diri kita sendiri, diri kita yang sebenarnya bukanlah tubuh kita, bukan pangkat kita, bukan gelar kita, bukan pikiran kita, dan juga bukan perasaan kita, semuanya adalah sekedar label yang menempel pada diri kita yang bila kita tidak dapat lepas dari itu maka kita akan selamanya terpenjara didalamnya, dan kebebasan hanya akan berada dalam angan-angan.
Semua hal yang berkaitan dengan diri kita bukanlah diri kita. Lalu apa dan siapakah kita...?

ranu mulyana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar